Minggu, 17 April 2016

Gubuk Aksara

Hay,Agan Hay, Sista
Ais kembali lagi nih tentunya dengan membawa sebuah tulisan dong kali ini, Ais bawa tulisan yang berjudul.... Gubuk Aksara nah, apa sih Gubuk Aksara itu? Gubuk Aksara adalah rumah alias tempat tinggal bagi beberapa 'rangkaian kata' dari Ais mau tau rangkaian kata apa yang akan Ais bagi ke Agan dan Sista, reader setia Ais? Mari Gan!! Cekidiit... Eh salah maksudnya Cekidot..  :D
Sejengkal Aksara Tak Bertuan
Sebilah kata...
Di sudut gelap yang tersembunyi dalam mimpi.
Menggapai kejora yang bersemi di antara sudut semu.
Barangkali aku memang tertakdir begini.
Selamanya berada pada lembah hitam nan suram.
Dan bertasbih dalam lafal suara merdu siang.
Menjalar menjadi kasih dan sayang.
Menjelma menafsirkan aksara- aksara yang terjebak jauh dalam hati ini.
Benar... Sebenarnya,
Aku ingin kita selalu bersama
meniti sekon yang belum andil dalam satuan masa.
Merekam seberkas cahaya yang pernah kau usapkan padaku.
Oh tuhan...,
Beri aku jalan dari semua kubik ini.
Yang sulit untuk kuperbaiki,
Hapus memori kecupan dari cahaya itu.
Yang meliku di tiap lentang kehidupan baru.
Cukup... Waktuku untukmu habis sia sia,
Dan masih tersisa,
Di balik tempurung kepala ini.
Dan lagi, debu pun ikut bertasbih...
Memberi kabar gugurnya daun.
Hembus nafas yang memburu.
Membidik serpihan haus yang membeku.
Dan membiru di sela rindu yang menggebu.
Akankah jiwa jiwa dalam kalbu akan membenamkan setetes peluh?
Menggiring terpaan angin pada lara yang kian memerih.
Meninggalkan bekas yang tak akan pernah mengering.
Semburat sinar yang tak pernah berujung.
Merengkuh tubuh yang tinggal kulit.
Lalu, satu kerlipan liar,
Yang membumbung dari mata itu,.
Mengubah segala isi dunia ini.
Hidup kelana di jalan raya.
Berliku bagai keseluruhan mengitari mentari.
Awan hitam ikut memenggal sejarah.
Hilang dalam lengkung langit kejujuran.
Hymne kehormatan berkibar pelik termansyur buatan tuhan.
Lenyap.
Kabut legam menyeruak di lubuk kenangan,
menumbuk sisa sisa purnama.
Berirama menelaah nada nada misteri.
Hanya serunai hijau yang bertandang pada kelihaian.
Agar nampak kekekalan abadi.
Lumpuh ia dalam genggam rindu.
Mati ia dalam punggung riwayat cinta.
Helaan nafas segarnya mengibarkan setiap jengkal perasaan.

Gimana, Gan?
Nangis nggk bacanya?
Nangis kan?
Nangis karena enggk jelas kan? Hehe, iya, ane ngerti kok, Gan�� tapi jangan lupa tinggalkan komentar ya, Gan dan jangan lupa buat share postingan ini biar blog ane makin rame  :D
See you, Gan
Sampai jumpa di postingan berikutnya ya  :D

Kamis, 14 April 2016

#1 Noktah Noktah Cinta

Hay, Agan!!!
Udah lama banget ane nggak posting, maklumlah Gan, ane sibuk buat mempersiapkan UN nih, doain yah semoga dapet nilai bagus UNnya nanti, soalnya ane juga masih belum siap buat UN. mangkanya ane jarang berkiprah di dunia maya...  :D hari ini, ane mau bawain cerbung yang beda dari sebelumnya nih, setelah sebelumnya ane ngeposting cerbung Di Balik Pintu Kelas, yang sampai saat ini belum ada lanjutannya, maaf yah, Gan  :D balik lagi ke alasan tadi kalo ane masih sibuk  :v  So, ntar kalo ada waktu, ane pasti posting lanjutannya kok, Gan, sabar yah  :v
Kali ini, ane mau postig cerbung baru yang berjudul Noktah-Noktah Cinta. tapi belum sepenuhnya ya Gan, namanya juga cerbung. ini baru episode satu  :D sebelumnya, maaf kalo typo bakalan bertebaran seperti daun di musim gugur  :v sok melankolis nih Ts  :v cekidot.... maaf typo!  :D
Judul : Noktah-Noktah Cinta
Author : Aisyah Putri
Debu- debu berterbangan disapu angin yang datang dari arah barat. Lalu berputar sejenak di tengah lapangan, kembali terbang membawa debu ke timur. Sekali dua kali beberapa rumput kecil yang baru tumbuh dan tentu belum terlalu teguh ikut terbawa angin. Sedangkan yang agak besar hanya menari, oh bukan. Rumput agak tinggi itu hendak menagis jika ia bisa, hendak menjeriit jika ia mampu. Baru saja anakan mereka terbawa angin. Aku hanya memandangnya.
                Tak mungkin aku menyelamatkan rumput- rumput itu. Nanti aku bisa dianggap gila. Permainan voli dan passing menjejal di sisi-sisi lapangan. Tak berani mereka menerjang kuatnya angin selatan yang hendak berbaur dengan musim hujan, entah seminggu, sebulan atau bahkan beberapa bulan lamanya. Sedangkan aku? Tak usah kau tanyakan aku. Aku memang tak suka pelajaran olahraga. Aku hanya duduk di tepi lapangan. Sekali lagi hanya duduk memandang teman temanku yang tengah  bermain olahraga yang mereka gemari (Volly, Basket, Badminton, Sepak Bola) dan memandang debu debu yang menari bersamanya. Sesekali kurapatkan kedua mataku, takut jika debu debu itu masuk dan menginap ke telisik bola mataku.
                Beberapa saat kemudian semuanya nampak berhenti. Tak ada semilir angin yang berlalu lalang menyelami ruang ruang bumi, anehnya hanya di lapangan inilah angin nampak keram, tidak mau menggerakkan sedikit saja bagian tubuhnya. Padahal di luar gerbang sekolah (kelihatan dari tempatku berada), angin masih berhambur menebar kebahagian buat petani di desa sana. Sebentar lagi musim hujan, baru saja musim kemarau menjemput indonesia. Sekarang, musim mulai mengubah haluan. Setelah sekian bulan lamanya kulit kulit manusia pribumu terpanggang sang surya.
                Mataku memandang jauh. Sangat jauh. Bahkan kalau tidak terhalang tembok yang berada di seberang lapangan sana pun, pandang mataku akan menghunus satuan terkecil ruang berupa atom hingga jauh, bahkan akan sampai ke kutub utara.
                Memoryku melayang, mengintip ujung langit. Masuk entah ke celah mana. Sejenak berputar ke pusaran magis yang biasa disebut blackhole, lubang cacing atau istilah istilah IPA lainnya. Bedanya blackhole itu milikku. Hanya milikku. Disini kugunakan sudut pandang aku. Menceritakan tentang aku, masa laluku. Cerah.  Berkas berkas sinar menerobos dari temppat tempat tak bersekat. semuanya selalu jelas terlihat. Dan aku hanya tinggal berpangku pada kenyataan. Dulu, aku ingin sekali jarum jam yang menebas angka bertingkat semakin tinggi itu tak cepat berjalan. Namun blacholeku tak mempunyai kemampuan semacam itu, blackholeku belum secangggih milik angkatan bersenjata di luar negeri. Ada sejumput mikro partikel sinar yang banyak sekali. Sehinnga membentuk lubang cahaya yang nampak abadi.
Flasback On
*
                Pagi itu, mentari mulai tersenyum simpul, cukup manis untuk mengawali hari yang akan melelahkan ini. Aku sudah siap dengan ransel besar dan koper hitam kecil beroda yang bisa kuseret kesana kemari. Hari baru belum genap dua jam menjemput  bagian sejak lintang tertutup cahaya mentari. Tapi sekolah sudah ramai saja oleh anak anak berseragam biru putih yang manampakan wajah wajah riang. Santai di depan kelas. Di sebuah kelas, diantara jajaran jajaran kelas yang sama tingkat (namun beda sub bagan). Semua anak nampak sibuk dengan buku dan pulpennya. Tangan mereka menari nari cepat diatas kertas putih bergaris garis, antara garis satu dengan garis yang lain jaraknya sama  (sama sama 0,7 mm).
                Tangan tangan mereka tangkas menuliskan setiap kosa kata yang yang baru saja mereka lihat di buku pinjaman kelas sebelah. Sebentar lagi salinan mereka akan dikumpulkan dan dinilai, minimal nilai mereka harus 9,5. Nilai mereka palsu. Aku masuk ke ruang kelas, menelanjangi ruang kelas.
                Mereka tercengang. barangkali melihat penampilanku yang jauh berbeda dengan mereka. Mereka mengenakan kemeja putih ( yang perempuan berlengan panjang dan berjilbab sedangkan yang laki laki berlengan pendek), berdasi biru, dengan bawahan biru. Di dada mereka tersemat nama mereka masing masing. Dilengan kiri mereka ada tulisan SMP Tunas Bangsa . Kesan pertama saat melihat mereka adalah, rapi.
                Tapi tidak dengan aku, tubuhku hanya terbalut kaos oblong biru lengan panjang dengan celana jeans hitam dan jilbab instan warna putih.tas ransel hitam menggantung di punggung. Koper kecil hitam kuseret dengan tangan kanan. aku tersenyum, memamerkan wajah berseri dan mata yang berbinar, melangkah ke sebuah kursi kayu khas tempat duduk para siswa di indonesia. Sebagian dari mereka beringsut mendekat ke arahku, sebagian lagi hanya melirik sinis, sisanya melanjutkan pekerjaan menyalin mereka yang belum selesai.
                “jadi berangkat ke jepang , Fan?” Irda mendekatiku dan duduk di depanku, aku tersenyum mengangguk.
                “hebat.Semoga berhasil ya!” Sania menyemangatiku.
                “iya... aamiin”
                “semoga kamu bisa mengharumkan nama bangsa ya, Fan?” timpal Lina sebelum bel tanda jam masuk berbunyi
                Masih jam 7, fikirku. Sejam lagi aku akan pergi ke jakarta tepatnya Bandara Soekarno Hatta, dan dari sana sebuah pesawat akan mengangkutku menuju jepang. dalam rangka mengikuti lomba menulis tingkat internasional mewakili indonesia, aku sendiri juga tidak menyangka kalau akhirnya aku akan melancong juga ke jepang.
                Jepang. Negeri yang selama ini menjadi impian dan anganku. Sejak dulu sekali aku ingin kesana, bahkan aku ingin suatu hari nanti bermukim disana. O, pasti indah. Di musim semi bunga bunga sakura akan beranak pinak dari ranting rantingnya. Saat musim gugur tiba, mereka berlomba lomba menjatuhkan diri ketanah, seolah tak ada harapan bagi mereka untuk terus hidup meski dingin akan menyelimuti mereka.
                Jika musim panas datang, matahari menyengat tak menyurutkan orang orang jepang untuk melangkah lebih lambat,tak membuat mereka mengurang waktu bekerja. Karena bagi mereka, time is money.
                Ajang yang sangat dinanti nanti seluruh penulis di dunia. Dimana akan tersimpul banyak kenangan nanti setelah pulang dari sana. mungkin itu yang paling membahagiakan. Aku tak pernah ingin yang muluk muluk, namun tuhan memberiku seperti ini. sebuah jenjang kehidupan yang dirasa amat sempurna.
                Tentunya ini adalah hari yang membahagiakan karena hari ini adalah episode paling berharga dalam hidupku. Seumur umur aku belum pernah keluar dari negeriku. Bahkan aku jarang sekali pergi keluar kota. Aku bukan berasal dari kaya raya. Hanyalah keluarga sederhana yang sangat berhemat atas uang.
                                                                *
                Dingin masih menusuk relung tulang  yang paling tidak bercelah, mentari agak malu malu menampakkan batang hidungnya. Dengan pakaian hitam seorang pesilat aku berjalan bangga dihadapan para penonton pertandingan, mataku menyemburkan kebinaran yang amat luar biasa. Sorai sorai penonton mengibas ngibaskan semangatku untuk kembali ke dada ini. Sebentar lagi pertandingan akan dimulai.
                Berpasang pasang mata menyorotkan pandangan kearahku. Tak bisa kusebutkan satu persatu. Bahkan aku tidak melihat aldi ada di sana. mataku berkitar mengelilingi ratusan penonton. Banyak yang kukenal, tapi tak ada aldi. Dimana dia? Prtanyaan itu masih menjadi tanda tanya, dan dari situlah muncul banyak sekali gelintir gelintir opini.
                Gema speaker dari pojok pojok ruangan aula mulai menyerukan tanda bahwa petandingan akan segera dimulai dan peserta diharap berkumpul. Pak elman menuntunku menuju ruang kumpul. Disana 3 gadis seusiaku berkumpul dengan pelatihnya masing masing. Hari ini, adalah babak final penentuan siapakan pesilat wanita terhebat di seluruh indonesia. Ada empat peserta yang mengikuti kompetisi final ini. Aku salah satunya.
                Kami diberi beberapa pengarahan dari juri. Dan sesaat kemudiana pertandinganpun dimulai.
                Aku terjatuh. Pukulan telak dibahuku membuatku hampir tidak sadarkan diri, wasit mulai berhitung. Aku menguatkan diriku.“satu” aku benar benar rapuh, rasanya tak lagi kuat untuk berdiri, kesadaranku mulai meredup. Perlahan kucoba ingat bagaimana perjuanganku untuk sampai di final. Namun gagal. Aku masih tidak kuat. “empat” teman temanku. Ya... mereka, mereka yang mendukungku. Bagaimanapun mereka sudah meletakkan amanat dikedua bahuku. Jawa tengah, ya benar aku harus berjuang demi jawa tengah. Pelan tapi pasti tenagaku mulai pulih. “tujuh...” samar kudengar sorai sorai semakin keras meneriaku untuk bangun. Aku bangkit....
                Lawanku yang tadinya berwajah terang kini meredup. Ia nampak geram dengan tindakanku yang mengecewakanya, dia pikir aku akan menyerah begitu saja. tidak... aku bangkit melawannya. Dia kembali mengincar bahuku. Tapi tidak kali ini aku menangkisnya dengan serangan di dada, dan seketika dia pingsan. Aku menunggui wasit berhitung. Suporternya histeris meneriakinya agar segera bangkit.
                “sepuluh” wasit mengangkat tanganku tinggi tinggi. Suporternya terlihat kecewa. Kontras dengan pendukungku yang berbinar air mukanya. Dan kini, juara pertandingan silat tingkat nasional adalah seorang gadis yang sedang menunggu penyemangat hidupnya yang tak kunjung datang disaat saat penting seperti tadi. Sial!
                                                                *
                Aku melirik jam tanganku. Masih jam 08.00. sebentar lagi, kertas hasil ulangan semester akan ditempel di depan kantor. Benar dugaanku, tiga kertas besar ditempel berjajar di dinding belakang kantor, tepatnya disebuah papan mading. Sontak semua anak berlarian menuju kesana. Bagai permen yang baru saja jatuh, dan langsung digumuli semut- semut. Aku hanya duduk menatap kelakuan mereka. Apa tidak ada waktu untuk melihat pengumuman itu lagi ya. Toh menungu sejenak juga bisa. Kenapa harus berebut begitu.
                Banyak dari mereka yang keluar dari kerumunan dengan wajah kecewa, barangkali melihat nilai mereka yang anjlok dan berada di posisi bawah. Namun ada juga yang keluar dengan wajah berseri seri, seperti habis ketemu gebetan. Beberapa dari mereka menatapku dengan serius, adapula yang mengancungkan telunjuk kearahku sembari mulutnya bekomat kamit “itu,,” aku bisa menebaknya. “Selamat ya... dapat paralel tiga” seseorang berucap dari belakang, Lina.
                “siapa?”
                “ya kamulahh”
                “oh ya?”
“gila!!! nilai Matematikamu sempurna. Seratus!” tiba tiba irda datang menimpali. “nilai raport!!!!” Sania ikut ikutan nimbrung.
“ah masa sihh?”
“ye... lihat aja sendiri!” aku melangkah menuju kerumunan yang sudah agak menyepi itu. Dan benar apa yang tadi dikatakan teman temanku. Nilai sempurna untuk matematika. Aku terperangah. Nilai sempurna itu kurasa mustahil. Bagaimana mungkin?. Menurutku nilai sempurna diraport adalah sebuah keajaiban dan mungkin mukjizat dari Allah.
Matematika. Mungkin dirasa sulit untuk sebagian orang tapi tidak. Kini kulihat sebuah nilai raport benar benar seratus. Perfect... itu tak mudah, aku tak percaya bahkan orang sejenius albert einsteen pun kukira tak pernah dapat nilai seratus. Imposibble. Tapi bagaimanapun ini realita. Meskipun harus ku akui ini samasekali tidak realistis. Betulkah? Ya, aku tahu, aku harus berterimakasih pada seseorang yang diam diam sudah memberi motivasi buatku, dia yang sudah selalu ada dalam dadaku, yang pelan menuntunku untuk keluar dari kegelapan. Kak aldi.
Aku berjalan santai menyusuri koridor sekolah, mataku awas menyaksikan setiap orang yang lewat. Tak ada kak aldi. Dimana dia? Seharusnya dia sedang bersenang senang kan? Dia paralel pertama untuk kelas sembilan. Hebat!
Dia adalah inspirasiku selamaini. Seseorang yang sudah menorehkan banyak kisah insipirasi sebagai teladan dan pelita buatku. Ah, aku ingat. Dia bukan orang yang ceria. Tak pernah sekalipun ia tersenyum, mungkin dia sudah pernah merasakan cambuk kehidupan yang bertalu talu sampai sampai dia lupa caranya tersenyum. Disini bisa ditarik benang merah kalau kak Aldi pasti tidak ikut dalam pengambilan raport ini. ah shit!!!
Yaps... hari yang ditunggu pun tiba. Usai penerimaan raport, hari hari yang menyenangkanpun akan segera dimulai. Libur panjang.... tak perlu sekolah, tak perlu mendengarkan ceramah dari guru guru yang nyolot, tak perlu besepada sejauh 2 km. Dan siap menjalani hari penuh imaji, ketegangan akan kelas baru. Lantas tidurpunakan menjadi ritual wajib setiap hari.
Pulang kampung? Hah? Kurasa itu hanyalah milik orang orang bearada saja sebab hampir semua keluarga besarku dari pihak ayah dan ibu sama sama tinggal di Pekalongan. Hmm ada sih yang tinggal di luar kota, tapi itu saudara jauh. Kalau pun memang harus kesana, kami harus mengumpulkan uang selama berbulan bulan sebelumnya.
#TBC#
Ditunggu saran dan komennya, plus jangan lupa share biar blog ini makin ramai. See you, Gan.
sampe ketemu di postingan berikutnya ya, Gan  :D