Udah lama banget ane nggak posting, maklumlah Gan, ane sibuk buat mempersiapkan UN nih, doain yah semoga dapet nilai bagus UNnya nanti, soalnya ane juga masih belum siap buat UN. mangkanya ane jarang berkiprah di dunia maya... :D hari ini, ane mau bawain cerbung yang beda dari sebelumnya nih, setelah sebelumnya ane ngeposting cerbung Di Balik Pintu Kelas, yang sampai saat ini belum ada lanjutannya, maaf yah, Gan :D balik lagi ke alasan tadi kalo ane masih sibuk :v So, ntar kalo ada waktu, ane pasti posting lanjutannya kok, Gan, sabar yah :v
Kali ini, ane mau postig cerbung baru yang berjudul Noktah-Noktah Cinta. tapi belum sepenuhnya ya Gan, namanya juga cerbung. ini baru episode satu :D sebelumnya, maaf kalo typo bakalan bertebaran seperti daun di musim gugur :v sok melankolis nih Ts :v cekidot.... maaf typo! :D
Judul : Noktah-Noktah Cinta
Author : Aisyah Putri
Debu- debu berterbangan disapu
angin yang datang dari arah barat. Lalu berputar sejenak di tengah lapangan,
kembali terbang membawa debu ke timur. Sekali dua kali beberapa rumput kecil
yang baru tumbuh dan tentu belum terlalu teguh ikut terbawa angin. Sedangkan
yang agak besar hanya menari, oh bukan. Rumput agak tinggi itu hendak menagis
jika ia bisa, hendak menjeriit jika ia mampu. Baru saja anakan mereka terbawa
angin. Aku hanya memandangnya.
Tak mungkin aku menyelamatkan
rumput- rumput itu. Nanti aku bisa dianggap gila. Permainan voli dan passing
menjejal di sisi-sisi lapangan. Tak berani mereka menerjang kuatnya angin selatan
yang hendak berbaur dengan musim hujan, entah seminggu, sebulan atau bahkan
beberapa bulan lamanya. Sedangkan aku? Tak usah kau tanyakan aku. Aku memang
tak suka pelajaran olahraga. Aku hanya duduk di tepi lapangan. Sekali lagi
hanya duduk memandang teman temanku yang tengah
bermain olahraga yang mereka gemari (Volly, Basket, Badminton, Sepak
Bola) dan memandang debu debu yang menari bersamanya. Sesekali kurapatkan kedua
mataku, takut jika debu debu itu masuk dan menginap ke telisik bola mataku.
Beberapa saat kemudian semuanya
nampak berhenti. Tak ada semilir angin yang berlalu lalang menyelami ruang
ruang bumi, anehnya hanya di lapangan inilah angin nampak keram, tidak mau
menggerakkan sedikit saja bagian tubuhnya. Padahal di luar gerbang sekolah
(kelihatan dari tempatku berada), angin masih berhambur menebar kebahagian buat
petani di desa sana. Sebentar lagi musim hujan, baru saja musim kemarau
menjemput indonesia. Sekarang, musim mulai mengubah haluan. Setelah sekian
bulan lamanya kulit kulit manusia pribumu terpanggang sang surya.
Mataku memandang jauh. Sangat
jauh. Bahkan kalau tidak terhalang tembok yang berada di seberang lapangan sana
pun, pandang mataku akan menghunus satuan terkecil ruang berupa atom hingga
jauh, bahkan akan sampai ke kutub utara.
Memoryku melayang, mengintip
ujung langit. Masuk entah ke celah mana. Sejenak berputar ke pusaran magis yang
biasa disebut blackhole, lubang cacing atau istilah istilah IPA lainnya.
Bedanya blackhole itu milikku. Hanya milikku. Disini kugunakan sudut pandang
aku. Menceritakan tentang aku, masa laluku. Cerah. Berkas berkas sinar menerobos dari temppat
tempat tak bersekat. semuanya selalu jelas terlihat. Dan aku hanya tinggal
berpangku pada kenyataan. Dulu, aku ingin sekali jarum jam yang menebas angka
bertingkat semakin tinggi itu tak cepat berjalan. Namun blacholeku tak
mempunyai kemampuan semacam itu, blackholeku belum secangggih milik angkatan
bersenjata di luar negeri. Ada sejumput mikro partikel sinar yang banyak
sekali. Sehinnga membentuk lubang cahaya yang nampak abadi.
Flasback On
*
Pagi itu, mentari mulai
tersenyum simpul, cukup manis untuk mengawali hari yang akan melelahkan ini.
Aku sudah siap dengan ransel besar dan koper hitam kecil beroda yang bisa
kuseret kesana kemari. Hari baru belum genap dua jam menjemput bagian sejak lintang tertutup cahaya mentari.
Tapi sekolah sudah ramai saja oleh anak anak berseragam biru putih yang
manampakan wajah wajah riang. Santai di depan kelas. Di sebuah kelas, diantara
jajaran jajaran kelas yang sama tingkat (namun beda sub bagan). Semua anak
nampak sibuk dengan buku dan pulpennya. Tangan mereka menari nari cepat diatas
kertas putih bergaris garis, antara garis satu dengan garis yang lain jaraknya
sama (sama sama 0,7 mm).
Tangan tangan mereka tangkas
menuliskan setiap kosa kata yang yang baru saja mereka lihat di buku pinjaman
kelas sebelah. Sebentar lagi salinan mereka akan dikumpulkan dan dinilai,
minimal nilai mereka harus 9,5. Nilai mereka palsu. Aku masuk ke ruang kelas,
menelanjangi ruang kelas.
Mereka tercengang. barangkali
melihat penampilanku yang jauh berbeda dengan mereka. Mereka mengenakan kemeja
putih ( yang perempuan berlengan panjang dan berjilbab sedangkan yang laki laki
berlengan pendek), berdasi biru, dengan bawahan biru. Di dada mereka tersemat
nama mereka masing masing. Dilengan kiri mereka ada tulisan SMP Tunas Bangsa .
Kesan pertama saat melihat mereka adalah, rapi.
Tapi tidak dengan aku, tubuhku
hanya terbalut kaos oblong biru lengan panjang dengan celana jeans hitam dan
jilbab instan warna putih.tas ransel hitam menggantung di punggung. Koper kecil
hitam kuseret dengan tangan kanan. aku tersenyum, memamerkan wajah berseri dan
mata yang berbinar, melangkah ke sebuah kursi kayu khas tempat duduk para siswa
di indonesia. Sebagian dari mereka beringsut mendekat ke arahku, sebagian lagi
hanya melirik sinis, sisanya melanjutkan pekerjaan menyalin mereka yang belum
selesai.
“jadi berangkat ke jepang ,
Fan?” Irda mendekatiku dan duduk di depanku, aku tersenyum mengangguk.
“hebat.Semoga berhasil ya!” Sania
menyemangatiku.
“iya... aamiin”
“semoga kamu bisa mengharumkan
nama bangsa ya, Fan?” timpal Lina sebelum bel tanda jam masuk berbunyi
Masih jam 7, fikirku. Sejam lagi
aku akan pergi ke jakarta tepatnya Bandara Soekarno Hatta, dan dari sana sebuah
pesawat akan mengangkutku menuju jepang. dalam rangka mengikuti lomba menulis
tingkat internasional mewakili indonesia, aku sendiri juga tidak menyangka
kalau akhirnya aku akan melancong juga ke jepang.
Jepang. Negeri yang selama ini
menjadi impian dan anganku. Sejak dulu sekali aku ingin kesana, bahkan aku
ingin suatu hari nanti bermukim disana. O, pasti indah. Di musim semi bunga
bunga sakura akan beranak pinak dari ranting rantingnya. Saat musim gugur tiba,
mereka berlomba lomba menjatuhkan diri ketanah, seolah tak ada harapan bagi
mereka untuk terus hidup meski dingin akan menyelimuti mereka.
Jika musim panas datang,
matahari menyengat tak menyurutkan orang orang jepang untuk melangkah lebih
lambat,tak membuat mereka mengurang waktu bekerja. Karena bagi mereka, time is
money.
Ajang yang sangat dinanti nanti
seluruh penulis di dunia. Dimana akan tersimpul banyak kenangan nanti setelah
pulang dari sana. mungkin itu yang paling membahagiakan. Aku tak pernah ingin
yang muluk muluk, namun tuhan memberiku seperti ini. sebuah jenjang kehidupan
yang dirasa amat sempurna.
Tentunya ini adalah hari yang
membahagiakan karena hari ini adalah episode paling berharga dalam hidupku.
Seumur umur aku belum pernah keluar dari negeriku. Bahkan aku jarang sekali
pergi keluar kota. Aku bukan berasal dari kaya raya. Hanyalah keluarga
sederhana yang sangat berhemat atas uang.
*
Dingin masih menusuk relung tulang yang paling tidak bercelah, mentari agak malu
malu menampakkan batang hidungnya. Dengan pakaian hitam seorang pesilat aku
berjalan bangga dihadapan para penonton pertandingan, mataku menyemburkan
kebinaran yang amat luar biasa. Sorai sorai penonton mengibas ngibaskan
semangatku untuk kembali ke dada ini. Sebentar lagi pertandingan akan dimulai.
Berpasang pasang mata
menyorotkan pandangan kearahku. Tak bisa kusebutkan satu persatu. Bahkan aku
tidak melihat aldi ada di sana. mataku berkitar mengelilingi ratusan penonton.
Banyak yang kukenal, tapi tak ada aldi. Dimana dia? Prtanyaan itu masih menjadi
tanda tanya, dan dari situlah muncul banyak sekali gelintir gelintir opini.
Gema speaker dari pojok pojok
ruangan aula mulai menyerukan tanda bahwa petandingan akan segera dimulai dan peserta
diharap berkumpul. Pak elman menuntunku menuju ruang kumpul. Disana 3 gadis
seusiaku berkumpul dengan pelatihnya masing masing. Hari ini, adalah babak
final penentuan siapakan pesilat wanita terhebat di seluruh indonesia. Ada
empat peserta yang mengikuti kompetisi final ini. Aku salah satunya.
Kami diberi beberapa pengarahan
dari juri. Dan sesaat kemudiana pertandinganpun dimulai.
Aku terjatuh. Pukulan telak
dibahuku membuatku hampir tidak sadarkan diri, wasit mulai berhitung. Aku
menguatkan diriku.“satu” aku benar benar rapuh, rasanya tak lagi kuat untuk
berdiri, kesadaranku mulai meredup. Perlahan kucoba ingat bagaimana
perjuanganku untuk sampai di final. Namun gagal. Aku masih tidak kuat. “empat”
teman temanku. Ya... mereka, mereka yang mendukungku. Bagaimanapun mereka sudah
meletakkan amanat dikedua bahuku. Jawa tengah, ya benar aku harus berjuang demi
jawa tengah. Pelan tapi pasti tenagaku mulai pulih. “tujuh...” samar kudengar
sorai sorai semakin keras meneriaku untuk bangun. Aku bangkit....
Lawanku yang tadinya berwajah
terang kini meredup. Ia nampak geram dengan tindakanku yang mengecewakanya, dia
pikir aku akan menyerah begitu saja. tidak... aku bangkit melawannya. Dia
kembali mengincar bahuku. Tapi tidak kali ini aku menangkisnya dengan serangan
di dada, dan seketika dia pingsan. Aku menunggui wasit berhitung. Suporternya
histeris meneriakinya agar segera bangkit.
“sepuluh” wasit mengangkat
tanganku tinggi tinggi. Suporternya terlihat kecewa. Kontras dengan pendukungku
yang berbinar air mukanya. Dan kini, juara pertandingan silat tingkat nasional
adalah seorang gadis yang sedang menunggu penyemangat hidupnya yang tak kunjung
datang disaat saat penting seperti tadi. Sial!
*
Aku melirik jam tanganku. Masih
jam 08.00. sebentar lagi, kertas hasil ulangan semester akan ditempel di depan
kantor. Benar dugaanku, tiga kertas besar ditempel berjajar di dinding belakang
kantor, tepatnya disebuah papan mading. Sontak semua anak berlarian menuju
kesana. Bagai permen yang baru saja jatuh, dan langsung digumuli semut- semut.
Aku hanya duduk menatap kelakuan mereka. Apa tidak ada waktu untuk melihat
pengumuman itu lagi ya. Toh menungu sejenak juga bisa. Kenapa harus berebut
begitu.
Banyak dari mereka yang keluar
dari kerumunan dengan wajah kecewa, barangkali melihat nilai mereka yang anjlok
dan berada di posisi bawah. Namun ada juga yang keluar dengan wajah berseri
seri, seperti habis ketemu gebetan. Beberapa dari mereka menatapku dengan
serius, adapula yang mengancungkan telunjuk kearahku sembari mulutnya bekomat
kamit “itu,,” aku bisa menebaknya. “Selamat ya... dapat paralel tiga” seseorang
berucap dari belakang, Lina.
“siapa?”
“ya kamulahh”
“oh ya?”
“gila!!! nilai Matematikamu sempurna.
Seratus!” tiba tiba irda datang menimpali. “nilai raport!!!!” Sania ikut ikutan
nimbrung.
“ah masa sihh?”
“ye... lihat aja sendiri!” aku melangkah
menuju kerumunan yang sudah agak menyepi itu. Dan benar apa yang tadi dikatakan
teman temanku. Nilai sempurna untuk matematika. Aku terperangah. Nilai sempurna
itu kurasa mustahil. Bagaimana mungkin?. Menurutku nilai sempurna diraport
adalah sebuah keajaiban dan mungkin mukjizat dari Allah.
Matematika. Mungkin dirasa sulit untuk sebagian
orang tapi tidak. Kini kulihat sebuah nilai raport benar benar seratus.
Perfect... itu tak mudah, aku tak percaya bahkan orang sejenius albert einsteen
pun kukira tak pernah dapat nilai seratus. Imposibble. Tapi bagaimanapun ini
realita. Meskipun harus ku akui ini samasekali tidak realistis. Betulkah? Ya,
aku tahu, aku harus berterimakasih pada seseorang yang diam diam sudah memberi
motivasi buatku, dia yang sudah selalu ada dalam dadaku, yang pelan menuntunku
untuk keluar dari kegelapan. Kak aldi.
Aku berjalan santai menyusuri koridor sekolah,
mataku awas menyaksikan setiap orang yang lewat. Tak ada kak aldi. Dimana dia?
Seharusnya dia sedang bersenang senang kan? Dia paralel pertama untuk kelas
sembilan. Hebat!
Dia adalah inspirasiku selamaini. Seseorang
yang sudah menorehkan banyak kisah insipirasi sebagai teladan dan pelita
buatku. Ah, aku ingat. Dia bukan orang yang ceria. Tak pernah sekalipun ia
tersenyum, mungkin dia sudah pernah merasakan cambuk kehidupan yang bertalu
talu sampai sampai dia lupa caranya tersenyum. Disini bisa ditarik benang merah
kalau kak Aldi pasti tidak ikut dalam pengambilan raport ini. ah shit!!!
Yaps... hari yang ditunggu pun tiba. Usai
penerimaan raport, hari hari yang menyenangkanpun akan segera dimulai. Libur
panjang.... tak perlu sekolah, tak perlu mendengarkan ceramah dari guru guru
yang nyolot, tak perlu besepada sejauh 2 km. Dan siap menjalani hari penuh
imaji, ketegangan akan kelas baru. Lantas tidurpunakan menjadi ritual wajib
setiap hari.
Pulang kampung? Hah? Kurasa itu hanyalah milik
orang orang bearada saja sebab hampir semua keluarga besarku dari pihak ayah
dan ibu sama sama tinggal di Pekalongan. Hmm ada sih yang tinggal di luar kota,
tapi itu saudara jauh. Kalau pun memang harus kesana, kami harus mengumpulkan
uang selama berbulan bulan sebelumnya.#TBC#
Ditunggu saran dan komennya, plus jangan lupa share biar blog ini makin ramai. See you, Gan.
sampe ketemu di postingan berikutnya ya, Gan :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar