Dengan
cekatan ia menulis catatan yang ada dipapan tulis, baru saja guru killer itu
menuliskannya di papan, tapi ia kecepatan tngannya itu benar benar tak bisa
dilampaui, apalagi kalau sudah di depan komputer, kecepatan tangannya itu benar
benar benar seperti kilat. Sita namanya, gadis itu meskipun sudah ku ganggu
bekali kali, tapi tetap saja ia mendapat nilai plus di mapel bahasa inggris
karena kecepatan nulisnya itu. Ah, dia beruntung ketimbang aku yang samasekali
tidak suka menulis. Bahkan aku selalu persetan dengan tugas sekolahku, tapi
hebatnya... aku selalu saja mendapat juara, ya maksudku tiga besar. Dan yang
paling aku benci di kelas ini adalah seseorang yang selalu saja menyaingi prestasiku,
Radit, cowok sok keren, sok cool, sok pinter, emang sih dia pinter, oh dan dia
songong dalam segala hal. Ya... walaupun harus kuakui kalau dia itu... ah aku
malas menampakan satu ini, ganteng. Eit tapi tetap aja dia bukan idola sekolah.
Di sekolah ini, ada satu cowok
yang paling keren dunia akhirat.. lebay ya? Biar... namanya arga, disamping keren, dia juga ganteng... uh
my idol. Tapi sayangnya aku tak akan pernah mendapatkannya, lihat saja
mantannya, sungguh bukan taruhanku, mereka jelas lebih cantik dariku, tapi
setidaknya aku bisa menjadikan arga sebagai motivasi buat berangkat sekolah.
Hahaha. Yup... aku memang tidak suka bersekolah, bagiku sekolah itu
membosankan, bahkan aku bercita cita untuk tidak sekolah setelah lulus SMA
nanti, tapi orang tuaku pasti akan berkata seperti ini “mau jadi apa kau?
Mentah mentah sudah pintar tak mau sekolah...” ujar ayahku seperti orang marah
karena diucapkan dengan logat medan yang kental.
Disamping itu, aku punya beberapa sahabat yang
selalu ada buatku, mereka selalu menemaniku, bersamaku, sepanjang waktu. Yah...
meskipun harus digaris bawahi kalau mereka itu..... ceplas ceplos. Dan ada di
antara mereka itu harus siap batin dan gak boleh baper alias bawa perasaan.
Lisa, ini dia sahabatku yang paling kwek kwek alias gopretwati, bisa dibilang
dia itu adiknya SNSD alias SKSD, sok kenal sok dekat. Dini, pemarah dan
cerewet, yah meskipun cerewatnya masih bisa ditoleransi. Fanda, gadis mungil
yang mulutnya sepuluh. Husni, dengan suara yang khas. Wanda, dengan sejuta
keanehannya. Itulah seklumit kisah tentangku, dan hidupku benar benar terasa
menarik karena mereka.
Malas... itulah aku setiap
harinya saat berangkat sekolah. Tak ada yang lebih baik dari main game, tapi
apa daya, panggilan orang tua membuatku harus pura pura bersemangat untuk pergi
ke sekolah. Hari ini, seperti hari hari sebelumnya, mentari seolah menyiramiku
dengan sinarnya, menggugahku untuk segera sadar bahwa aku sudah sampai
disekolah saat ini, tapi seperti biasanya juga, aku bagaikan daun yang tak
pernah disiram berbulan bulan, layu tak bertenaga. Sekali lagi, seperti
biasanya, aku berjalan enjoy, ya karena kufikir hari ini tidak ada pr atau
pekerjaan rumit, namun ternyata, seluruh pelajaran hari itu.... ber-pr
semuanya. Dan satu deritaku adalah, tidak istirahat hari ini.
“gue kira anak yang paralel lima
itu rajin dan pandai” sindir Radit yang tentu memukul telak aku, aku
menghentikan penarian indah pulpenku diatas buku, tanganku mengepal, “apa
maksudmu?” tanyaku dengan amarah yang sudah membuncah. Ia menatapku dari bawah
ke atas, membuatku lebih intensif memngawasi matanya, “apa? Apa?” tanyaku
sedikit mundur. Ia melangkah maju mengintimidasiku. Aku semakin mundur, hingga
punggungku menghantam tembok. “apa apaan sih lo??” tanyaku dengan ekspresi
takut, marah, bingung.aku menghadapkan kepalan tanganku ke wajahnya. Ia
tersenyum remeh, lalu pergi begitu saja dengan tangan yang ia selipkan di kedua
saku celana. “laki laki gila!” jeritku mengumpat padanya yang sudah hampir
menjauh. “buat firan gue liar aja” umpatku setelah dia benar benar pergi.
Menyebalkan, apa maksudnya
memojokanku dikelas tadi, apalagi saat semua anak pergi ke kantin. Beruntung
tidak ada yang tahu. Aku kembali mengutik angka angka magis yang sebentar lagi
akan berlangsung, tapi aku belum mengerjakan satu soal pun, fikiranku masih
terusik akan kejadian tadi. Aku kacau, akibatnya tak ada satu soal pun yang
kukerjakan dan mapel matematika dengan guru killer akan segera di mulai, dan
itu tandanya aku harus bersiap siap untuk ditendang dari kelas.
“siang anak anak?” salam bu
anggun dengan nada ramah yang tetap menggabarkan ke-killerannya, dengan
kacamata yang hanya tersandar pada hidung dan rambut smoothing yang lurus.
“ siang bu...” jawab anak anak
serempak kecuali aku yang tengah sibuk memutar otak untuk membuat argumen yang
nanti akan kulempar sebagai alasan tidak mengerjakan pr.
“ baik, keluarkan pr kalian. Ada
yang tidak mengerjakan?” tanya bu anggun dengan kemarahan yang belum terlalu
jelas. “tunjuk tangan!” pintanya. Dengan wajah menunduk dan tangan dingin aku
mengangkat tanganku tinggi tinggi. “kamu lagi... kamu lagi” ujarnya dengan nada
bosan campur marah, “tidak ada alasan. Tutup pintu itu dari luar” ia menunjuk
pintu kelas duabelas E.
Aku melangkah gontai mondar
mandir diluar kelas, sudah berkali kali aku menengok jam tangan yang terlingkar
rapi di tangan kananku, serasa jarum jam tak pernah berputar. Lama sekali
kutunggu waktu istirahat tiba,hingga kau akhirnya mencoba duduk sambari
menunggu waktu istirahat.
“eh ke kantin yuk!” ajak Radit
ramah padaku. Aku diam menatap perubahan drastis yang terjadi padanya, aku
memeriksa dahinya dengan punggung tanganku.
“suhumu cocok. Lo habis makan
apa?” tanyaku bingung, aku tak mengerti apa yang membuatnya berubah drastis
sedemikian rupa. “nggak biasanya lo ngajak gue ke kantin?” aku meliriknya tajam. Ia tetap membisu. “ayo...!”
baru saja aku berjalan dua langkah, tiba tiba aku terjatuh kelantai. Radit
tertawa, di ikuti anak anak di kelas. “jadi ini alasanmu mengajakku ke kantin?”
tanyaku sinis. “dasar cowok gila? Apa nggak ada yang bisa lo kerjain selain
ngeganggu gue” aku menunjuk nunjuk wajahnya sebgai luapan emosi kemarahanku
padanya. Bagaimana tidak ia menumpahan air kelantai agar membuatku terpeleset.
“dasar nggak ada gunanya! Arrrgggg... Radit.....” aku terbangun dan aku
tersadar kalau sedari tadi aku tertidur di depan kelas. Dan kini, sudah masuk
waktu istirahat, yang lebih parahnya lagi seluruh sekolah melihatku dengan tatapan
aneh, barangkali mereka melihatku sedang marah, ah ini memalukan... aku
tersenyum menampakkan gigi depanku , lalu
bergegas masuk kelas. Dan tak berapa lama kemudian ledakan tawa mereka
bisa kudengar dari dalam kelas.
“lo mimpiiin gue?” tanya Radit
yang tiba tiba hadir di depanku. Melihat wajahnya yang tersenyum sinis itu
membuatku benar benar marah, berusaha ku tahan emosi ini dengan mengigit bibir
bawahku. “jujur aja! Kalo lo suka sama gue?” tanyanya lagi dengan kegeeran yang
luar biasa geer. Sejenak kulihat
wajahnya, tawaku meledak... “Hahaha, najis tau?” ungkapku blak blakkan saja. Ia
melirik memandangku, lama, sampai tawaku benar benar pulih. “kenapa?” tanyaku,
namun ia masih saja memandangku. Entah, tiba tiba saja jantungku berdegup
kencang, seolah akan lepas dari pangkalnya, nafasku mulai memburu. Radit
mendekatkan wajahnya, lalu tepat di depan wajahku, ia sandarkan kepalanya pada
tangan kanannya. Nafasku kian memburu tak beraturan, “yakin?” tanyanya seakan
tahu apa yang sedang terjadi padaku. Aku hanya diam lantaran merasa sudah kalah telak dengannya, dan
beberapa saat kemudian, aku memutuskan untuk pergi dari hadapannya.
Dengan masih dibayangi rasa
takut aku keluar dari kelas, namun nahasnya, tepat di pintu kelas, aku
bertabrakan dengan fanda, “ uh” refleks aku mengeluarkan suara. Tak ada angin
tak ada badai, tiba tiba fanda tertawa, ya... meskipun aku tak bingung apa
penyebab ia tertawa, tak lain, tak bukan dan persisnya adalah karena kejadian
tadi kualami, bermimpi tentang lelaki songong itu.
“kebetulan aja gue mimpiin dia”
jawabku yang sedang diwawancara oleh sahabatku yang kepo itu.
“jujur aja deh kalo lo tuh suka
sama dia?” tanya Lisa yang langsung menyekak ster aku.
“najis... nggak mungkinlah gue
suka sama dia” jawabku lagi dengan nada merendahkan Radit.
“ahh.. jangan jangan lo cinta sama dia?” dini
menyenggol bahu kananku. “hhh kalian ada ada aja, udah... jangan bahas itu.. gue
muak”.mereka tertawa membuatku lebih sengsara, ah... dasar Radit...
Hari yang sial, semuanya kacau,
dan ini gara gara Radit. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, ah... serasa hilang semua bebanku, aku
kembali semula, semangat tanpa menghiraukan apa yang tadi terjadi di sekolah,
meski tak bisa kupungkiri aku masih terbayang dengan wajah menyebalkan Radit,
namun aku mencoba menepis dia dari ingatanku. Sekali lagi, aku menengok jam
dinding yang tegantung tepat di depan ranjang yang sedang kurebahi. 15.00.
segera saja ku ambil langkah ke toilet untuk mandi, lalu bersiap untuk pergi
kesekolah lantaran aku sudah berjanji untuk mengerjakan tugas kelompok di
sekolah.
Aku berjalan gontai melewati
kelas demi kelas yang berjajar di sepanjang koridor sekolah yng tidak begitu
ramai ini. Beberapa anak melihatku dengan tatapan geli, mungkin mereka masih
teringat kejadian siang usai. Sebersit rasa malu kembali muncul saat semakin aku
berjalan kedepan makin banyak pula orang yang tertawa ketika mereka
menjumpaiku, dan di saat genting ini, otakku yng susah connect ini baru
menyadarkan aku kalau arga pasti telah mendengar berita ini, ah aku jadi
semakin malu. Aku mencepatkan jalanku sembari menunduk, dan sialnya, aku
menabrak seseorang ketika aku melewati pertigaan koridor. Aku mencoba menengok
sesorang yang kutabrak itu, oh God, Its Arga. Lekas saja aku masuk kedalam
toilet yang kebetulan berada tepat di sampingku. Dan tak berapa lama kemudian
suara tawa kecil seorang lelaki menghampiri telingaku. Dan bisa dipastikan itu
adalah suara tawa Arga.
Aku menatap wajahku sendiri
dengan bantuan cermin toilet, agak lama aku melakukannya, fikirku masih
dipenuhi dengan pertanyaan, ‘kenapa arga tertawa?’ mungkin terlihat tidak
penting bukan? Tapi ini sangat penting. Karena aku tak ingin arga memandang
buruk aku. Aku masih berfikir, memiringkan kepalaku kekanan, kekiri, sembari
menatapku sendiri lewat kaca. Dan oh no, aku ingat. Pelan tapi pasti aku menengok
salah satu pintu tolet yang berada di sampingku. Dan disana pula, aku melihat
sebuah tanda yang meyakinkanku bahwa hanya laki laki yang boleh masuk ke toilet
ini. “Hwaa...” aku berlari keluar dari toilet itu dengan jeritan yang lur biasa
keras.
Aku berhasil keluar dari sana,
dan lagi lagi, aku kena. Karena, ternyata di depan toilet banyak anak anak yang
sedang melakukan kesibukannya, namun tetap saja melihat seorang wanita keluar
dari toilet laki laki adalah hal yang lucu dan menggelikan, dan tentu
mengundang gelak tawa untuk menghadiri tenggorokan mereka. Aku kembali
merasakan emosi berupa M.A.L.U, segera kukeluarkan sebuah buku dari tas untuk
menutupi wajahku yang sebenarnya tak tahu harus kukemanakan. Aku berlari kecil
dengan wajah tertutup buku, alhasil aku selamat dari pandang mata anak anak
itu. Cara konyol yang berhasil emas.
Dengan nafas yang masih terengah
engah aku terkapar dikelas, meletakan kepalaku di atas meja, seolah olah aku
keberatan untuk membawa beban berupa kepala. Aku menengok sekitar kelas, sepi,
tak ada mahkluk bernama manusia kecuali aku.
Sudah kuduga sebelumnya kalau aku adalah orang pertama yang akan
berangkat setiap kerja kelompok. Tak perlu kutunggu lama, tiba tiba seseorang
datang dengan tawanya yang lepas kemana mana, Angki. Aku memandangnya sampai
tawanya benar benar selesai.
“lo tahu. Tadi ada kejadian lucu
di toilet pria?” tanyanya seakan mengejekku. aku menyorotkan bola mata pada
wajahnya yang nampak sangat sinis setelah tertawa lepas. “gue nggak tau sih
siapa pelakunya. Kalo gue sih malu banget” ujarnya disusul dengan tawa yang
mambahana, aku yakin, kalau ia tahu pelakunya adalah aku, pasti aku akan malu
untuk yang kesekian kalinya, sehingga aku hanya diam.
Padahal, ingin sekali aku melemparnya
dengan sepatu atau alat alat lain yang lebih berat dari sepatu, berutung aku
masih bisa mengendalikan emosi amarahku. Kalau tidak, sudah pecah kepalanya
karena meja kayu jati yang berbaris
tidak rapi dikelas ini. Di tengah
amarahku yang kian membuncah, seseorang masuk ke kelas, seseorang dengan kedua
tangan yang terselip di saku celananya. Ia-lah seseorang yang sangat kubenci
dalam hidupku, Radit. Sontak saja aku terkejut dengan keadaannya, aku melirik Angki,
memberi pandangan mengintimidasinya. entah bingung atau pura pura bingung , Angki
membalas pandanganku dengan kebingungan yang nampak amat jelas.
“dia bakal bantu kita ngerjain
tugas” jelas Angki seolah tahu apa yang aku isyaratkan padanya.
“lo gila?” mataku membulat.
Angki menggeleng tanpa dosa. “ lo kan tahu kalau gue tuh...” Angki membekap
mulutku, menahanku mengucapkan kata benci. “yuk kita kerjain” ajak Angki pada Radit,
Radit hanya mengikuti pinta Angki. Namun ia sedikit memandangku aneh dan remeh,
aku berusaha memberontak dari bekapan Angki pada mulutku, ingin rasanya aku
menendang wajahnya yang sinis itu dengan kakiku yang sudah gatal ini. Tapi apa
daya, tangan pemain voli ini lebih kuat dariku. Sehingga aku tak mampu
melepaskan diri darinya.
Sepanjang sore itu aku hanya
duduk sembari memainkan ponselku, sesekali melihat pekerjaan yang mereka
lakukan. Melihatku bertingkah demikian, Angki hanya diam, bahkan ia justru senang
karena aku tidak banyak bicara sehingga tidak menyusahkan pekerjaan mereka,
lebih lebih mengganggu pekerjaan Radit, atau bahkan membuat Radit tidak mau
membantu kami, maksudku Angki.
Waktu sudah menjukkan pukul lima sore, cuaca yang tadinya panas berubah
jadi mendung, mentari seolah enggan menampakkan sinarnya lagi. Ia seakan hilang
diterkam suasana hatiku yang kacau. Perlahan tapi pasti, langit mulai menagis.
Menghujamkan ratusan juta tetes air yang dibagi seluas bumi. aku terjebak di
sekolah, Angki sudah pulang lima menit yang lalu. Maksud hati, aku hanya ingin
menghindar dari kerumunan masal untuk menghindari rasa malu. Namun kalau tahu
akan hujan deras begini, aku akan pulang bersama Angki lima menit yang lalu.
Nasi sudah menjadi bubur. Faktanya, Angki sudah pulang lebih dulu, sedangkan
aku harus menunggu hujan reda.
Sudah hampir tiga puluh menit
aku memandangi lapangan yang tengah disiram air langit, bukannya tanda tanda
hujan akan berhenti, hujan kali ini justru semakin deras saja. Ketakutanku
semakin memuncak, terlebih keramaian sudah mulai beranjak dari sekolah ini.
Jalan fikirku sudah melayang terbang kemana mana. Takutku kian merajalela. Aku
menggigit bibir bawahku untuk mengurangi rasa takutku. Meski hanya sedikit.
Dari kejauhan aku melihat seseorang
tengah berjalan menuju ke arahku. Dengan membawa sebuah payung ia terlihat
susah untuk berjalan menembus kerunyaman hujan yang amat deras. Aku berjalan
maju, memastikan bahwa setidaknya dia adalah seorang manusia. Yups.. ia
berjalan menapak tanah. Ia berjalan mendekatiku, dan bisa kupastikan ia adalah Radit.
Kini, ia berdiri di depanku, “lu ngapain sih? Yuk pulang!” suruhnya padaku
dengan nada yang sedikit keras karena dibarengi dengan ritme hujan yang
berantakan. Aku membisu, tak percaya dengan semua ini. “ke.. kenapa lo ada
disini?” tanyaku terbata bata dan mata yang berkaca kaca. “udah, nggak usah
banyak tanya, ayo pulang” ia menggenggam tanganku yang membuatku fokus pada
genggaman tangannya yang kasar, namun bisa kurasakan kalau itu lembut dan
tulus. Bagaikan patung yang seret, aku hanya mengikutinya saja, sebab pandangan
mataku hanya terfokus pada genggamannya.
Kami berjalan setengah berlari
menembus gelap dan hujan, entah karena hujan atau bagaimana? Jalanan itu
terlihat lenggang, hanya satu atau dua kendaraan yang berlalu lalang sehingga
membuat kami lebih leluasa untuk berlari. Kami berhenti sejenak di sebuah
halte, sekedar menghindar dari lelah, aku membenahi pakaianku yang sudah
setengah basah karena air hujan. Radit melangkah kedepan, mengulurkan tangannya
menadah hujan, lalu menerawang ke langit, mungkin sekedar meramal cuaca. Aku
mengusapkan kedua telapak tanganku, berharap tidak lagi merasakan dingin yang
amat sangat. “dingin ya?” tanya Radit mengagetkanku. Aku mengangguk, aku merasa
anggapanku selama ini terhadapnya salah besar. “langsung pulang aja ya, wajah
lo kelihatan lelah” ujarnya sembari menuntunku, dengan penuh perhatian. “aku
bisa berjalan sendiri” tuturku sambil melepaskan tangannya yang tadi bergelayut
di pundakku.
Malam ini, tak ada satupun bus
yang lewat sehingga kami harus berjalan untuk sampai ke rumah, dan kebetulan
rumah kami searah sehingga kami bisa pulang bersama malam ini. “tidak mau masuk
dulu?” tawarku sesaat setelah sampai di depan pintu gerbang rumah. “tidak”
jawabnya singkat sebelum benar benar pergi menjauh.
Aku membanting tubuhku idi sofa.
Tulang tulangku serasa mau patah. Beruntung aku segera mengganti baju agar
tidak demam. Meskipun begitu, tetap saja aku masih merasa kedinginan. “hhhh...”
aku menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya lega. Kembali fikiranku di
racun oleh sebuah perasaan yang membuatku tak bisa tidur, ah Radit lagi...Radit
lagi. Aku samasekali tak menyangka kalau lelaki yang songongnya buakn main itu
ternyata adalah seorang yang lembut. Oh god..., aku lupa mengucapkan terima
kasih padanya, aku jadi merasa bersalah padanya.
Aku menuruni anak tangga dengan
cepat, memburu waktu untuk sarapan bersama kedua orang tuaku, momen yang paling
kutunggu setiap hari, meskipun terkadang aku telihat munafik saat mengucap
‘selamat pagi’ dengan ramah. sebab kedua orang tuaku sangat jarang berada
dirumah, sehingga aku lebih suka berada diluar rumah ketimbang harus sendirian
dirumah karena aku anak tunggal.
“pagi pah, mah” sapaku cuek,
seperti hari hari sebelumnya.
“pagi Shila sayang...” balas
keduanya dengan semangat.aku duduk di salah satu kursi yang melingkari meja
makan. Aku mulai mengambil sarapan berupa nasi goreng yang disajikan oleh si
mbok. Namun mama dan papa hanya diam dan saling lirik. Membuat otakku mulai
memunculkan beberapa pertanyaan. “kenapa?” tanyaku, mereka tetap diam dan
menajamkan lirikan mata mereka.
“ada hal yang mau papah
samapaikan ke kamu” ungkap papa aneh.
“apa?” aku mulai terlihat takut.
“mama dan papa ada tugas selama
sebulan di jerman. Jadi kamu akan kami titipkan di tempat teman papa.”
“gak usahlah pah. Toh, aku kan
sudah SMAkelas tiga, lagipula... disini juga ada si mbok.” Elakku.
“sayangnya si mbok akan pulang
kampung selama sebulan” sanggah mama dengan cepat seolah ingin menyekak aku.
Dan dengan terpaksa aku menerima tawaran mereka untuk dititipkan ke rumah teman
papa.
‘kringggg...’ aku telat lagi,
sudah berapa kali ini aku telat berangkat sekolah gara gara debat dengan mama
di meja makan, ada saja yang kami debatkan, namun aku senang, setidaknya aku
komunikasi dengan mama, yah... meskipun lewat cara yang tiak wajar, debat.
‘krek’seorang memarkir sepedanya disebelahku, aku menengok. “Radit?” kagetku
melihatnya. “tak biasanya kau berangkat sesiang ini?” tanyaku dengan penuh
harap akan dijawab, sayangnya ia hanya tersenyum tipis.
Aku bejalan mengikutinya,
jalannya yang cepat dan tidak bisa aku tandingi membuatku harus sedikit berlari
untuk bisa menyamainya. “emm.... ada yang ingin aku bicarakan padamu” ucapku
dengan nada lirih dan ritme yang patah patah. “bicara saja” katanya tanpa
menengok bahkan tetap berjalan cepat seperti sebelumnya. “emm.. berhenti dulu,
aku ingin bicara padamu” pintaku, namun ia seakan tidak pernah menganggap aku
ada dan terus berjalan cepat. “tinggal bicara apa susahnya sih” ujarnya lagi
lagi tanpa menengok bahkan melirik sekalipun. Radit berbeda 180 derajat dengan
kemarin, saat ia perhatian dan menjadi lelaki pengertian, bukan seperti Radit
yang kutemui sekarang.
“aku tidak jadi bicara” aku
berlari mendahuluinya, sembari setengah menatapnya tajam dan marah, aku sampai
dikelas lebih dulu dan langsung duduk dibangkuku sambil memandangi pintu kelas,
menunggu Radit. Sementara itu, semua anak memandangiku dengan tatapan aneh dan
bingung seakan ada yang salah dariku. “Kenapa?” tanyaku tanpa dosa, dan sedikit
kebingungan, aku melihat ke arah Angki, ia meyadarkanku kearah guru, oh god.
“sejak kapan bu anggun ada di situ?” tanyaku keras dan sekali lagi, tanpa ada
rasa salah. “berdiri didepan” suruhnya, aku menuruti apa yang ia pintakan
padaku, dengan langkah lunglai aku maju dan berdiri didepan, tak berapa lama
kemudian, Radit datang dengan mulut yang setengah membulat, mungkin karena
kaget. “kamu juga, berdiri di depan.” Suruh bu anggun pada Radit yang baru saja
tiba. Aku sedikit tertawa kecil.
“kau tahu? Aku telat gara gara
kau.” Ucapku saat berada di taman sekolah.
“aku juga,
telat gara gara kau” ujarnya dengan hendak menyamaiku. Serentak mata dan
mulutku membulat. “ke.. kenapa kau menyalahkanku?” aku tergagap. Ia hanya
membalasnya dengan bahasa kesukaannya, diam. Lagi lagi aku merasa
bersalah, apa mungkin karena kejadian
kemarin ya?. Kulihat lagi wajahnya, ia nampak pucat. “kau demam ya...?” aku
kembali membulatkan mulutku, entah kenapa aku sangat menghawatirkan
kesehatannya? Barangkali karena kejadian kemarin aku jadi peduli padanya. “mau
ku antar ke uks?” tawarku mengajaknya ke UKS.
Ia hanya menggeleng, “aku baik baik saja” bohonngnya padaku, terang saja
aku tahu kalu ia sakit, namun ia sembunyikan rasa sakit itu dariku. Tapi mau
bagaimana lagi? Ia tak mau mengakuinya.
“soal yang kemarin aku minta
maaf ya?” ungkapku jujur sembari menggigit bibir bawahku.
“minta maaf untuk apa?” ia balik
bertanya padaku.
“emm maksudku aku berterima
kasih karena kau sudah mengantarkanku sampai rumah” ia hanya mengangguk tanda
mengerti. Kami diam. Sejenak memberi nafas untuk kecanggungan kami saat bicara
berdua saja, sementara yang lain sedang menempuh pelajaran, dan kami diusir
dari kelas. Tiba tiba ia terbatuk. Aku menengok kearahnya yang sedari tadi
membelakangiku.
“kau yakin tidak mau ke UKS?”
aku meliriknya dengan penuh simpati. Lagi lagi ia hanya terbisu disetai bahasa
tubuh yang bisa kupastikan ia akan menjawab tidak jika seandainya kedua
bibirnya itu mampu digerakkan.
“kau brbeda dari yang kemarin”
aku mendengus kesal, sikap dinginnya ini yang benar benar membuatku muak
setengah mati, tapi apa boleh buat, temanku bicara saat ini hanyalah dia. Mau
tak mau aku harus mengajaknya bicara agar aku tidak merasa suntuk. Ia tersenyum
miring.
“jadi tadi kau dikeluarkan
bersama Radit?” tanya husni memastikan sambil menahan tawanya. Aku mengangguk
lesu sembari menyedot es-ku. Mereka tertawa lepas, membbuatku semakin kesal
saja.
“apa mungkin kalian ini jodoh
ya?” fanda melirikkan matanya keatas tanda ia sedang berfikir, namun cara dan
ungkapannya itu benar benar meledekku.
“jangan lupa undangannya ya,
Shil” lagi lagi wanda mengejekku dengan tawanya yang membuat seisi kantin heboh.
“bayangkan saja! Saat Ashila
Putri dan Raditya Dwi Arafiq menikah, itu akan menjadi pernikahan terunik di
dunia” ledek lisa, sekali lagi dibarengi dengan tawa yang membuncah.
“terus Arga mau dikemanain
Shil?” tanya dini dengan ejekan yang luar bisa mengejek, sebab sorot matanya
itu mengarah kebelakangku, membuatku secara refleks menghadap kebelakang, dan
yang mengejutkan adalah ada arga yang berada tepat di belakangku. Ia menengok,
memandang kami dengan tatap penuh amarah. Aku hanya tersenyum menampakkan
barisan gigiku.
“pagi anak anak?”
“pagi ma’am.........”
“hari ini saya akan mengadakan
ulangan harian” ucapan Ms. Risa sontak membuatku terkejut.
“yah...” keluh semua anak
terasuk aku, jelas saja mereka mengeluh, alasannya sudah gamblang bahwa mereka
pasti tidak belajar tadi malam, tak terkecuali aku, maksudku aku belajar,
bermain game baru. Bahkan tidak ada pemberitahuan sebelumnya yang sontak saja
membuat anak anak tak siap menghadapi ulangan harian kali ini. Baca saja ada
ulangan dadakan.
Terang saja, aku merasa gentar,
bagaimana mungkin aku akan mengerjakan ualangan bahasa inggris tanpa persiapan
terlebih dahulu. Bahkan aku tak bisa mengartikan kata tanya seperti how dan
why. Beruntungnya aku mempunyai teman yang super duper jago bahasa inggris dan
kemampuannya dalam menerjemahkan bahasa inggris tak diragukan lagi, dan yang
membuat aku bahagia adalah ia duduk disampingku yang menjadikan aku merasa
memiliki kartu AS. Dialah Sita, gadis yang pandai dalam berbahasa inggris ini
tentunya akan mau memberiku jawabannya.
‘tok to tok’ sesorang tiba tiba
saja mengetuk pintu kelas dengan lirih, sontak semua anak mengalihkan perhatian
kearah pintu kelas. Seorang pria dari kelas sbelah nampak tersenyum ramah. Ia
masuk setelah mendapat izin dari Ms. Risa. Pria itu terlihat sedang
bernegoisasi dengan Ms. Risa, entah apa yang mereka diskusikan, jelasnya mereka
terlihat sangat serius. Bisa kupastikan kalau semua anak di kelas 9E sedang
berdo’a agar ulangan ini ditunda, macam diriku yang kali ini sedang komat kamit
mulutnya memanjatkan do’a agar ulangan hari ini tidak hanya ditunda, tapi
ditiadakan, atau bahkan mapel bahasa inggris di hapuskan sepanjang mas kedepan.
Tak berapa lama kemudian...
“Sita? Kamu dapat panggilan
untuk segera mendatangi ruangan kepsek” pinta Ms. Risa, Sita hanya bisa pasrah
sambila berlalu keluar dari kelas. Deg... aku mulai ketar ketir mengingat tak
ada lagi yang bisa kuandalkan selain Sita, dan ulangan pun dimulai. Jujur aku
tak paham samasekali dengan soal soal yang serasa begitu asing bagiku. Aku
sudah berpikir terlalu keras untuk itu, namun alhasil aku baru mampu
mengerjakan 5 dari 30 soal, sementara waktu terus berjalan yang kini sudah
separuh waktu berlalu.
Aku semakin gusar, memendarkan
pandang kesegala arah berharap ada anak yang dengan ikhlas membei contekkan
padaku, tapi rasanya tidak mungkin aku menjumpai orang seperti itu melihat
situasi dan keadaan saat dimana semua anak sedang dalam puncak srius menggarap
ulangan. Sayangnya aku tak bisa mengandalkan kemampuan imajinasi logika yang
biasanya selalu aku pergunakan untuk mengarang jawaban. Aku memutar otak,
menjungkir balikan ide ide yang sudah ada, seakan mempertemukan kedua belah
hemisferku ini dalam sebuah ruang kelam yang tak bisa kujangkau batasnya.
Disaat genting akan habis waktu ulangan. Muncul sebuah ide cemerlang yang
kurasa bisa membantuku melewati jalan yang sukar ini. Aku menghadap kebelakang,
dimana Radit duduk.
“udah selesai?” bisikku pada Radit
yang lirih, berharap agar Ms. Risa tidak mendengarnya. Ia melirikkan mata ke
arah meja, dimana lembar jawabnya berada. Kulihat ia sudah menyelesaikan semua
soal soal itu, dan kurasa jawabannya benar. “kupinjam sebentar ya?” tawarku dengan cekatan langsung mengambil
lembar jawab itu dari tangannya tanpa izin terlebih dahulu. Cepat tapi pasti,
dan tentunya, berantakan, itulah tulisanku. Bahkan beberapa orang menyebut
tulisanku ini macam tulisan dokter, susah dibaca. Atau ada lagi yang dengan
sinisnya mengucapkan bahwa tulisanku itu singkat, padat, tidak jelas. Aku ingat
apa yang kata kata yang pernah diucapkan teman Sdku.
“udah belum?” tanya seseorang
yang aku yakini Radit, “bentar” balasku bisik.
“cepetan dong!” suruhnya segera
menyelesaikan catatanku, benar benar orang yang tidak sabaran. Sementara suara
itu terus menerus mengetuku ngetuk telingaku, aku mersa seseorang mengoyah
goyahkan kursiku.pasal ini membuatku begitu risih. Sehingga dengan agak kerasa
aku menyentak Radit. “sabar dikit kenap....” aku tercekat begitu melihat Ms.
Risa yang sudah berdiri mengamatiku. Sedikit kuarahkan pandang mata ke Radit,
ia terlihat pasrah dengan apa yang sedang terjadi. Aku mengedarkan sorot mata
pada seisi kelas, mereka nampak bengong dengan kejadian ini, saat aku
tertangkap sedang manyalin jawaban Radit.
Sontak aku tertawa melihat
ekspresi mmereka yang pakem itu, bahkan tawaku meledak ledak. Sendiri, yup
sendiri. Hanya aku yang terlihat tertawa. Aku mengalihkan pandang ke arah Radit,
ia memelototkan mata, mungkin ia merasa aneh dengan tingkahku. Tawaku tak
berahan lama. Aku berhnti menyadari mata Ms. Risa semakin bulat saja. Jujur
saja aku masih ingin tertawa, tapi apa boleh buat, bukan sepertinya lagi kalau
Ms. Risa tak mengizinkanku tawaku ini.
“kamu... kamu” Ms. Risa
menunjukku sebelum akhirnya ia menunjuk Radit. “keluar” telunjuk Ms. Risa
mengarah ke pintu ruang kelas, seolah menunjukkan jalan yang sebennar benarnya
intuk kami keluar dari kelas ini. “ayo lekas!” suruh Ms. Risa mengingat gerakan
kami yang lamban saat mengemasi barang barang kami. Dengan langkah gontai kami
pun keluar, namun ucapan Ms. Risa membuat kami berhenti sejenak, “ nilai ulangan kalian kali ini
kosong”.
Kami seakan lunglai, namun kami
tetap berjalan agar nyayian Ms. Risa itu tak lagi sampai di telinga kami,
membuat kami muak dan gendang telinga kami pecah.
Ia menendang kaleng bekas yang
malang melintang di jalan, aku hanya melihatnya dari belakang. Seakan putus asa
dan tak lagi punya tujuan, jalannya nampak sempoyongan. Ia berhenti, menghadap
ke belakang, memandangku dengan tatapan sengit. “kau mengikutiku?” ia mengintimidasiku. Aku salah tingkah,
menggeleng palsu. “ti.. tidak, aku tidak mmengikutimu” aku tergagap menjawab
pertanyaan darinya. Aku berbalik dan berlari kecil menjauhinya, berharap ia
percaya dengan gelenganku tadi.
AUTHOR P.O.V.
Radit menatap Ashila aneh, gadis itu seperti
membuatnya seolah-olah menunjukkan sifat penyayangnya, entah apa yang membuat
sifat itu kembali muncul saat ia berada di dekat gadis itu. Dan satu rasa yang
tak pernah ia sendiri fahami. Yang tak pernah ia rasakan kecuali saat ia berada
di dekat sesorang yang pernah membuatnya benar benar jatuh cinta. Dan membuat
ia berubah total. Dari sekian banyak tempat dan fasilitas yang ada di sekolah
ini, satu satunya tempat yang paling Radit suka adalah taman sekolah, dimana ia
bisa memandang danau yang tidak seberapa luasnya.
Seperti
saat ini, ia duduk dipinggir danau dan memandang danau yang jernih airnya, dan
faktor inilah yang paling ia suka. Jarang jarang ada danau ditengah kota
jakarta yang bersihnya seperti danau ini. Begitu fikirnya. Ditengoknya jam
tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. 13.30. “sebentar lagi
pulang” gumamnya. Tiba tiba sebuah tangan menghalangi pandangannya. Ia
terkejut. “kya....” kaget seseorang yang sontak berada di depannya. “kau?” Radit sedikit mengeraskan volume
suaranya. Ashila tersenyum lebar.
“hhhh” Radit menarik nafas
panjang. Baru saja bebannya datang. “dua kali aku di usir karena kau” sesal Radit
tanpa memandang Ashila, namun jelas apa yang diucapkannya itu ia tunjukkan pada
Ashila. Ashila memonyongkan mulutnya. “kau ini kenapa sih? Setiap kali bertemu
denganku, pasti maunya ribut.... mulu” ia menyentak Radit, seperti biasa, Radit
hanya diam dan pergi. Beberapa langkah saja ia menjauh dari Ashila, ia baru
mejawab pertanyaan Ashila tadi. “kau kan yang ngajak ribut” ia melenggang
begitu saja, yang tentu membuat Ashila marah, wanita mana yang mau dikacangin
macam itu.
Ashila mengejar Radit, wajahnya
itu sudah merah padam enggan menerima argumen dari Radit barusan. Menyadari ada
seekor harimau yang tengah mengerjarnya, Radit langsung mengeluarkan jurus
andalannya dalam olahraga, sprint. Terang saja, Ashila yang tidak bisa sprint
itu tidak bisa menanding Radit. Meki sudah tergopoh gopoh, Radit tetap terlihat
berjarak jauh dengannya, bahkan semakin jauh. Ia mencoba berlari lagi, namun
‘brakk’. Ia terjatuh, sialnya ia tidak pernah mengira kalau sebuah batu mangkal
dibawahnya. Dengan sigap Radit berbalik, berniat menolong Ashila. Ia memapah Ashila
ke ruang UKS. Baru saja mereka sampai ke ruang UKS, bel pulang berbunyi. Tapi Radit
tetap memapah Ashila dengan tenang.
Dengan tenang ia membalut luka Ashila,namun
beberapa kali Ashila menjambak rambut Radit, mungkin karena sakit. Beberapa
saat kemudian, luka Ashila yang tadi mengucurkan darah segar kini terbungkus
perban putih, melingkari lututnya. Ia terbaring di ruang UKS, Radit msih setia
menemaninya, meskipun padahal Radit masih punya banyak pr di rumah dan
sebenarnya dia harus belajar untuk ujian tengah semester yang akan di adakan bulan
b bb bbb depan.
“Dit..., makasih ya?” ucap Ashila
lirih. Lagi lagi ia tak mendengar jawaban dari Radit, melainkan sebuah anggukan
lemah ala Radit yang selalu ia dapatkan. ‘hoammm’ Ashila terlihat menguap, rasa kantuk yang
amat tak tertahankan mnggerayangi tubuhnya. Tak butuh waktu lama, kantuk itu
menguasai dirinya. Ia terlelap. Radit
yang duduk di sebelahnya tampak menimbang nimbang pendapat antara pergi atau
tetap menemani Ashila yang terlelap.
Sedikit ia memandangi Ashila, namun semakin lama ia memandang wajah
Ashila, semakin dalam pula sesuatu menusuk dalam hatinya. Entah apa itu? Ia
mendekati Ashila. Dekat, semakin dekat, dari situlah ia baru menyadari betapa Ashila
memancarkan wajah yang kalem. Ia menyandarkan kepala di samping Ashila
tertidur. Tangannya mengenggam lembut tangan Ashila, lebih lembut dari
genggaman yang ia berikan saat hujan kemarin. Dan merekapun sama sama tertidur.
Hari kian senja saja. Sekolah
yang baru saja riuh oleh anak anak yang berkepentingan untuk eskul mulai
kembali diselimuti kesepian. Beruntung hari ini tidak ada eskul PMR sehingga Ashila
dan Radit masih tertidur pulas, tanpa ada gangguan dari mereka yang ikut PMR
yang biasanya menggunakan ruang UKS sebagai stand mereka. Ashila terbangun. Ia
sedikit terkejut melihat lelaki yang sebenarnya ia benci itu ada di sampingnya,
setia menemaninya yang sedari tadi menjelajahi benua mimpi. ia merasa tangannya
di genggam seseorang dan ia adalah Radit. Ya benar, tangannya digenggam oleh Radit.
Ia menggerakkan tangnnya,
berniat untuk melepaskan tangannya dari genggaman Radit. Tapi, sekali lagi
memandang wajah Radit, seolah ia enggan melepasnya dan tetap seperti itu.
Ditatapnya wajah Radit, entah? Perlahan rasa benci yang digundukknya selama ini
mulai memudar. Sebuah rasa yang tiba tiba saja muncul, yang tak pernah menahu
apa yang sebenarnya ia rasakan. Ia kembali ingat kejadian usai sore kemarin. Yang
ia rasakan adalah ketika tangannya mulai menghangat, tak pernah ia rasa
kehangatan ini. Menambah tusukkan rasa yang baru saja menancap pada hatinya
kian dalam.
Sebuah tetes air mengucur begitu
saja dari matanya. Setets air mata haru mengingat tak pernah ia rasakan
kehangatan yang setulus ini. Sekalipun dari kedua orang yang paling ia sayang,
ayah dan ibunya. Ashila mulai sesengukkan oleh tangisnya sendiri. “eh....” Radit
terbangun, ia masih kalap, namun tetap
sadar bahwa yang ada disapingnya adalah seorang gadis yang membuatnya selalu
berdegup kencang saat berada didekatnya.
“udah bangun?” Ashila mengangguk
lirih. “kenapa nangis?” Radit membulatkan mata.
“tak apa” Ashila tersenyum
kecil. “ayo kita pulang” ajak Ashila yang langsung disambut dengan uluran
tangan Radit yang bermaksud membantu Ashila bangun. Ashila kembali tersenyum.
“ayo!”.
Ashila sampai di rumah, ia
sedikit tersentak saat kamarnya kosong melompong, bajunya, perlatan sekolahnya,
gadget kesayangannya. Semuanya lenyap entah kemana, bahkan ps4 yang baru
dibelinyapun ikut raib tak tahu kemana. Ia termangu di depan kaca yang tembus
langsung ke halaman depan rumahnya, ia bernafas berat.sekali lagi ia menatap
seisi kamar yang luas namun hanya tak terhiasi barang barang kesayangnnya, dan
baginya itu sama saja bukan kamarnya.
‘beep beep....’ suara klakson
mobil tiba tiba saja mengenai gendang telingnya, membuatnya sontak menengok ke
arah halaman depan, di sana sebuah mobil berhenti dan seseorang melambai
lambaikan tangannya ke arahnya. Segera Ashila turun menyambangi orang itu.
“kamu yang benama Ashila?” tanya pria paruh baya itu dengan sopan seraya
mencocokkan sesuatu di kertasnya. “ayo... saya antar kamu ke rumah teman papa
kamu” ajak pria itu. Ashila yang tak tahu apa apa hanya mengikuti ajakan pria
itu. Sepanajang perjalanan, hanya kebisuan yang mereka lempar. Tak ada satupun
prcakapan hangat yang terjadi antara mereka. Mereka sama sama menatap jalan
depan, dan sama sama berharap mereka akan cepat sampai tujuan
Tak sampai satu jam perjalanan,
mereka pun sampai di sebuah rumah
tertutup yang megah, namun kelihatan tidak ada penghuninya, Ashila mulai
terlihat ketakutan. Sementara itu, pria paruh baya yang tadi mengantarnya tiba
tiba hilang begitu saja disususl bunyi deru mobil yang perlahan mulai menjauh.
Ashila memandang punggung mobil itu hingga mobil itu benar benar menghilang di
tikungan yang jaraknya jauh sekali dari tempatnya berdiri. Ashila masih saja
hanya menatap rumah megah itu tangpa mengetuk apalgi bersuara, dirinya masih
was was dengan alamat yang diberikan pria paruh baya di dalam mobil. Sudah
banyak kali Ashila menyocokkan alamat itu dengan nomor yang terpajang lusuh dan
hendak rubuh di depan rumah itu. Takut takut kalau rumah itu bukanlah rumah
teman papahnya, karena melihat tampilan yang membungkus rumah itu saja rasanya
tak mungkin kalau papahnya punya sahabat yang tinggal di tempat terpencil
ditengah sawah seperti rumah yang berada persis di depannya.
Ashila membulatkan tekadnya
untuk mengetuk pintu saja, itu terasa berat baginya, lebih dari menghadapi
rintangan tersulit dalam game yang biasa ia mainkan. ‘hhhh’ ia menghembuskan
nafas berat, ribuan beban perlhan mulai merasuki ulu hatinya. Dengan penuh
percaya diri Ashila mengetuk pintu rumah itu. “permisi....?” sapa Ashila
sedikit takut, tangannya pun bergetar hebat saat memegang pintu besi di rumah
itu, ia menunggu untuk beberapa saat, sekejap kemudian ia kembali mengetuk
pintu rumh itu lebih keras dari sebelumnya, dan memberi salam sapa lebih keras
dari sebelumnya. “permisi....!” Ashila berusaha mengintip isi rumah itu, tapi
nampaknya rumah itu benar benar tak berpenghuni. Dengan langkah lesu akhirnya Ashila
beranjak dari rumah itu.
Belum genapa langkah Ashila yang
kesepuluh meninggalkan rumah yang catnya sudah kusam itu, tiba tiba Ashila
merasa namanya dipanggil seseorang. Ia menoleh ke segala arah, dan menemukan
seorang wanita paruh baya di depan pintu gerbang rumah tua tadi. Wanita itu
tersenyum sambil melambaikan tangan, segera Ashila berlari mendekati wanita itu
setelah memastikan kakinya menapak tanah. “kamu Ashila?” tanya ibu itu, Ashila
mengangguk semangat. “ayo masuk!” ibu itu mempersilahkan Ashila masuk ke
rumahnya, rumah yang cocok dengan alamat yang diberi sopir paruh baya di mobil
tadi.
Kini Ashila terbengong bengong,
matanya awas mengintai setiap sisi taman di depan rumah yang kelihatan lusuh
dan reot jika dilihat dari depan. Tak bisa di sangka jika di dalam rumah
seperti itu bisa tersusun taman yang rapi dan indah macam yang sedang ada di
depan Ashila ini. Dan tak yang paling tak terduga adalah bangunan dengan pagar
yang hampir rubuh itu ternyata menyimpah rumah denga furniture yang begiu indah
dengan kayu kayu yang terasa alami. Persis seperti rumah idaman Ashila.
‘sepertinya aku akan betah tinggal di rumah ini’ batin Ashila seraya mengamati
dudut sudut rumah itu dengan teliti. “ini kamar kamu” ucap ibu itu dengan
senyum penuh semangat menatap Ashila. “oh iya.. panggil saja aku ibu, anggap
aku seperti ibumu... ya?” ibu menyenggol bahu Ashila, Ashila tersenyum lebar.
“barang barang kamu sudah sampai
lebih dulu. Kamu kemana saja? Katanya kau pulang sekolah jam dua siang? Lalu
kenapa baru kesini jam 5 sore” ucap ibu sambil meletakkan teh hangat di meja
kecil yang berada di pojok kamar baru Ashila. Ashila tersenyum. Ia agak salah
tingkah, mengambil beberapa posisi duduk yang enak dirasanya. “kok dari tadi
hany senyum senyum saja?”
“iya... tadi ada tugas di
sekolah, jadi harus pulang terlambat.” Jawab Ashila masih dengan wajah nyengir.
“by the way, kamu sekolah di SMA
Tunas Mulia kan?” lagi lagi Ashila tersenyum sambil mengangguk.
“anak ibu juga sekolah disitu
loh” ucap ibu sepertinya berharap Ashila tahu tentag anaknya.
“oh ya?” Ashila nampak antusias
ingin menyimak cerita yang akandisuguhkan ibu itu.
“iya.., namanya...” ucapan ibu
terpotong oleh panggilan seseorang dari lantai satu, sedangan kami di lantai
dua. “sebentar ya? Anak ibu datang” sesegera mungkin ibu kelur dari kamar.
Nampaknya Ashila sangat lelah,
badannya terasa sudah lengket setelah seharian bergumul dengan tugas dan sinar
mentari. Belum lagi tadi ia sempat tertidur di UKS karena kakinya terluka.
Sampai sekarang pun pegal di lututnya masih terasa gamblang. Ia memijit mijit
kakinya sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi.
Malam ini, Ashila duduk di taman
depan yang tadi dilihatnya seraya sibuk mengutak atik ponselnya, sudah beberapa
kali ia menengok waktu saat ini di jerman, sesekali memandang langit malam yang
di serakki oleh bintng bintang yang tersusun acak, namun tetap saja terlihat
indah, mungkin karena dia bercahaya di langit malam yang biru kelam. Ashila
termangu, fikirannya terbang melayang menyusul bintang bintang itu, seperti
khayalannya yang selalu ia curahkan di PCnya saat waktu luang. Sekali lagi Ashila
menengok jam tangan yang terlingkar di pergelangan tangan kanannya. Ia menepuk
tangannya dan “ahaa....” Tiba tiba saja
terlintas di fikirannya untuk membuka akun facebook kesayangannya.
Berandanya sudah penuh dengan
status status alay yang terkadang membuatnya enek dan terpaksa harus meremove
dia. Lantaran mereka itu menyebalkan.
Semakin kebawah, nampaknya status status di berandanya semakin tak terkontrol
alaynya, ada juga status yang sifatnya menyindir sehingga tak jarang facebook
yang seharusnya menjadi tempat sosialisasi yang modern dan baik malah menjadi
ajang sindir menyindir. Sampai pada sebuah status ia berhenti menggeser jari
dari layar ponselnya, dibacanya agak keras status tertanda oleh ‘Raditya Dwi
Arafiq’ yang dikirim baru saja, “where are you?” ucapnya mengeja status itu.
“untuk siapa ya?” tanyanya entah pada siapa.
Malam mulai merayap ke
pertengahan, namun ia masih saja terjaga, kata ibu, anaknya baru pulang dari
kerja part timenya setelah tengah malam sehingga pintu gerbang belum dikunci
dan lampu rumah pun belum dimatikan, begitu pula Ashila yang masih duduk di
tempatnya sejak tadi. Sampai sekarang, Ashila masih saja terngiang status Radit,
padahal sudah beberapa kali ia berusaha membuang ingatan itu dari memorinya.
‘krek krek’ suara pintu gerbang
besi itu terbuka, Ashila menengok. Ia membelalakkan matanya. Refleks ia
langsung masuk ke kamar, takut takut kalau tiba tiba ada pedofilia seperti yang
ada di berita berita di televisi. Sesampainya di kamar nafasnya terengah engah,
pegal di lututnya kembali kumat, namun sekeras mungkin ia berusaha menahan rasa
sakit itu dan mencoba memulai mimpi indah.
“pagi, Bu..! Pak!” sapa Ashila
turun dari tangga, “lho, anak ibu kemana?”
“baru saja berangkat, padahal
tadi ibu menyuruhnya menunggumu, tapi ia malah lansung pergi, maafkan dia ya?”
Ibu sedikit kecewa.
“ tidak apa apa kok bu, lagi
pula Ashila juga sudah biasa naik sepeda sendiri.”
“lututmu terluka?” ibu kaget
bukan main. Ashila hanya menyunngingkan senyum tipis. “seharusnya kau berangkat
bersama Radit” lanjut ibu, kini Ashila yang kaget seengah mati. Telinganya
pasti masih berfungsi dengan baik.
“jjjjaadi... Radit itu anak
ibu?” tanya Ashila terbata bata
“kau mengenalnya?” kini ayah
ikut bicara. Ashila mengangguk.
“kau satu kelas dengannya?” ibu
bertanya penuh harap. Ashila kembali mengangguk.
“pasti kau lebih pintar dari Radit
ya?” ucap ibu memuji Ashila. “tidak juga, Bu, yasudah Ashila berangkat dulu
ya?” Ashila segera pamit pergi ke sekolah agar tidak terlambat mengingat waktu
yang sudah hampir setengah tujuh.
Ashila P.O.V.
Pagi ini, sekolah belum terlalu
padat siswa, biasanya aku selalu berangkat lebih siang dari ini. Beruntung ia
bisa cepat sampai di sekolah lantaran rumah Radit dibilan cukup dekat dengan
sekolah. lapangan masih basah akibat hujan semalam, namun aku tetap saja ngeyel
melewati lapangan itu. Aku sedikit berhati hati supaya tidak terpeleset. Di
seberang lapangan sana, Dini, Lisa, dan Fanda nampaknya sedang asyikberbicang
bincang alias nggosip, membuatku tergelitik untuk mendekati dan ikut ngerumpi
bersama mereka.
“hai? Pagi pagi udah ngrumpi
aja?” sapaku mebuat candaan garing untuk
mereka. “bahas apaan sih?”
“lagi bahas berita baru, lagi
heboh tauuu”ucap dini dengan nada penuh misteri.
“apaah sih? Bikin penasaran aja”
“tapi kau janji ya? Gak akan
cemburu” ucap fanda memastikan.
“emang beritanya apaan?” tanyaku
penasaran.
“sepertinya kau tidak akan
pernah bisa mendapatkan rivalmu deh?” goda fanda lagi.
“Radit maksudmu?” fanda
mengangguk. “kau bercanda ya? Aku kan sama sekali tidak menyukainya.”
“kau yakin?” lisa sedikit
memincingkan matanya, aku mengangguk pasti, meski terang saja aku masih sangsi
dengan anggukanku.
“kalau dia pacaran dengan desi
bagaimana?” kali ini lisa yang menggodaku.
“apa? Bukannya desi sudah punya
pacar?” aku memastikan kembali ucapan lisa yang membuatku benar benar
tercengang. Mereka hanya mengangkat bahu. Entah kenapa hal ini benar benar
menusuk hatiku?. Aku tidak pernah mengerti apa yang tuhan rencanakan, sejak
kejadian sore itu, mulai ada rasa yang menerjangku kuat kuat, aku sendiri tak
tahu rasa apa itu, yang jelas, aku belum mampu menerjemahkannya. Dan yang aku
yakin hanyalah, rasa itu tentang Radit.
Lantaran barita tadi pagi, aku
jadi tak fokus dengan pelajaran pagi ini. Padahal, setahuku ujian semester satu
akan diadakan seminggu lagi.namun aku justru tak semangat untuk menjalaninya.
Yang kutunggu saat ini hanyalah waktu dimana aku bisa tidur, lantaran tidur
adalah hal yang paling indah dan mampu melegakan sedikit bebanku.perlahan rasa
kantuk yang tak tertahankan pun mulai menyerangku. Aku menyandarkan kepala
diatas meja, lamat lamat pandanganku mulai memburam dan gelap.
“Ashila?” aku mendengar seklebat
suara yang menghampiri telingaku samar. aku terbangun dari tidurku. Kini pak Anggara
berada di depanku. “kerjakan soal di depan” suruhnya, dengan tubuh masih
terikat kantuk, aku maju kedepan, berjalan sempoyongan, mengambil spidol dan
mulai mengerjakan soal yang tertulis di papan, tanpa ada rintangan yang
berarti. soal yang cukup mudah. Pak Anggara memandangku terkagum kagum.
“yasudah, sana tidur lagi!” pintanya, aku kembali tergeletak di meja dan
kembali terlepap, menjejeli alam mimpi. tak berapa lama kemudian, bel istirahat
membahana diseluruh kelas membuat wajah mereka ingin segera keluar meninggalkan
mapel IPA.
Aku tetap berada di kelas, tak
ingin memotong adegan mimpi dalam tidurku, meski kini hanya aku seorang yang
berada di dalam kelas.namun ini justru membuatku nyaman. Sendiri tanpa teman
untuk sesaat. Tak dinyana, tiba tiba anak anak kelas itu mengagetkan dan
mengganggu tidurku, mereka membuat keributan dikelas. Dan yang paling kubenci
dari keributan itu adalah mereka mengunjingkan desi dan Radit dan memuji bahwa
mereka itu pasangan yang cocok, ah aku muak. Tidurku jadi tak senyaman
sebelumnya. Membuatku memilih kebijakan terbaik berupa meninggalkan kerumunan
itu. “cocok dari mana? Mereka itu pasangan terburuk yang pernah ada” gumamku
mengumpat. Kutinggalkan kelas dengan masih keadaan dongkol menuju ke kantin,
memesan semangkuk mie dan segelas es teh, untuk mengganti sarapanku yang hilang
tadi pagi.
“boleh duduk disini? Meja
lainnya sudah penuh”tanya seorang lelaki, meskipun tanpa aku melihatnya, aku
yakin sangat kalau dia laki laki. Suaranya berat. Aku menengok. Oh god...
benarkah pria didepanku ini arga? Aku menampar pipiku sementara ia masih setia
menunggu jawabanku, aku mengangguk tak percaya. Aku sempat menatapnya, sebelum
akhirnyaibu kantin mengagetkanku . “selamat menikmati!” ujar ibu kantin dengan
ramah sambil menyodorkan semangkuk mi dan segelas esteh yang kupesan tadi, aku
tersenyum menanggapi senyuman ibu kantin.
“eee...” aku sedikit canggung
untuk memulai obrolan dengan arga, maklum saja, sebelumnya aku tidak pernah
berada satu meja dengan pria asing macam arga seperti yang kini kujalani.
Namun, seakan mengerti kecanggunganku, arga memulai obrolan ngalor ngodul kami.
“kemana teman temanmu?” arga
memulai percakapan.
“mereka sedang ada kelas, kami
kan beda kelas. Jadi tidak bisa bersama setiap waktu” jawabku masih nampak
canggung dan risih. Arga mengangguk mengerti, lalu tersenyum simpul.
“nanti malam ada acara?”
tanyanya to the point. Aku yang tengah sibuk dengan mi yang berada dimulutpun
kini menatapnya dengan menggeleng kecil. “mau jalan denganku?” aku membelalakan
mata, tak percaya bahwa arga senekat itu mengajakku jalan. “oh iya. Ini nomor
telefonku. Kirim alamatmu ya! Nanti malam akan kujemput” ia memberikan secarik
kertas berisi nomor nomor berurutan panjang. “maaf ya? Tidak bisa menemanimu
makan. Sebentar lagi aku ada kelas” pamitnya, sekejap kemudian ia berlalu dari
pandanganku.
Baru saja senja hilang tertelan
jingga yang berlalu dari pandang bulan, mentari pun seakan ikut larut bersama
senja, kini hanya ada bintang yang kian setia saja pada bulan. Ya, malam telah
tiba, membuatku semakin deg deg ser lantaran akan dijemput arga. “aduh... mana
ya yang cocok?” tanyaku monolog. “masa sih harus pakai kaos oblong sama jeans”
aku protes pada diriku. Sambil memandang kaca aku merapikan kaos oblong dan
jeans yang kupakai, meski sempat berdebat dengan diriku, tapi akhirnya
kuputuskan untuk memakai kaos oblong dan jeans, aku memilih untuk tampil apa
adanya. Drrrtt drrrtt. Ponselku berdering. Aku membuka sebuah pesan masuk dari
arga. “duapuluh menit lagi aku sampai” tulisnya.
‘hhhh’ kutarik nafas panjang
seraya membuka pintu kamarku. Aku berdiri membelakangi pintu kamar. Tunggu...
aku menemukan seseorang disebelahku. Aku menengok berbarengan dengannya. “Radit?”
aku kaget setengah mati. “jadi kamarmu disini?” tanyaku panik. Ia hanya
mengangguk biasa saja.
“jadi kau anak teman ayah yang
akan tinggal selama sebulan disini?” ia balik bertanya.
“iya... kenapa?” aku sewot.
“nothings” jawabnya songong
memakai bahasa inggris. Ia melihatku dari bawah ke atas. “malam Minggu mau
kemana? Kau kan jomblo” lanjutnya dengan sinis.
“hey! Jaga mulutmu ya!” emosiku
mulai membuncah. Namun seakan tak menepis rasa yang tempo hari ada. Ia hanya berlalu sambari
menyelipkan tangan pada kedua sakunya. “tunggu!” aku menghentikan langkahnya.
Ia berhenti membelakangiku. “kau jadian dengan desi?” aku agak melirihkan
suaraku. Lagi lagi ia mengangguk sebelumbenar benar pergi. Aku hanya menatap
punggungnya, karena hanya bagian itu yang bisa kutatap semauku, kapanpun. Aku
menyusulnya turun kebawah. Akmi berpamitan dengan ibu dan ayah yang tengah
menonton tv bersama.
“kalian akan pergi bersama?” ibu
tersenyum harap dengan ekspresi ceria. Belum sempat aku menjawab. Ibu sudah
berkoar koar pada ayah, “lihatlah yah! Nampaknya ashila ini akan menjadi
menantu kita...” aku tercengang dengan ucapan ibu, “ti..,” aku berusaha
menyanggahnya, namun Radit menahanku melakukannya, nampaknya ia haya tidak
ingin ibu kecewa. “iya, Bu. Kami akan pergi bersama” Radit tiba tiba saja
merangkul lenganku. “ya sudah, kami pergi dulu ya, Bu”. “be carefull” ujar ibu
setelah kami keluar dari pintu.
aku melepaskan rangkulannya. Dan
bergidik ngeri. “kenapa sih?” aku masih sewot. Ia tak menjawab, dan langsung
pergi begitu saja dengan motornya tanpa memperdulikan aku. Aku diam, menunggu
arga datang menjemputku. Meskipun begitu, fikiranku masih terngiang ngiang
pasal ucapan Radit yang membenarkan kalau ia benar benar pacaran dengan desi.
Entah kenapa ada perasaan yang mengikatku, dan seolah memberiku pengertian
bahwa ‘Radit adalah milikku’. Hati kecilku, ialah yang tak mengizinkanku untuk
lari dari kenyataan. Dari kejauhan, sebuah lampu motor menyoroti keberadaanku,
aku memincingkan mata yang silau ke arahnya. Sebuah motor matic merah kini
berhenti didepanku. Pengendaranya membuka helm, dan pengendara itu beridentitas
arga. Yup.. dia adalah arga, yang kini mangkal di depanku, menungguku
membonceng motor yang ia bawa dan lalu pergi.
Kami sampai disebuah cafe betema
romantis, dimana meja meja khusus didesain untuk dua orang yang kan duduk
saling mengadap satu sama lain. Lilin putih yang menyala agak terang diletakkan
di tengah mejanya, menambah suasana romantis di cafe itu. Arga mengajakku duduk
disalah satu bangku yang masih kosong. Kami hanya memesan dua gelas minuman.
Dudukku masih canggung. meski tadi kami sudah sempat berbincang bincang lewat
ponsel, namun tetap saja aku masih merasa canggung saat berhadapan langsung
dengannya. Ironisnya, meskipun tadinya aku mengidolakan arga, aku tidak merasa
ada sebuah rasa yang menyentuh hatiku seperti ketika aku bersama Radit. Ada
sesuatu yang hilang dariku.
“kamu kenapa? Dari tadi diam
saja?” nada yang arga lempar mencerminkan kekhawatiran. Aku tersenyum lembut
mentapnya sekilas, lalu kembali menunduk.
“kamu sakit?” ia kembali
bertanya, deangan penuh perhatian ia mengecek dahiku dengan punggung tangannya,
aku hanya melihatnya, tanpa ada yang bergetar dalam hatiku. Sedikitpun.
“aku tidak apa apa” aku
melepaskan tangannya dari dahiku sembari tersenyum simpul. Hatiku tidak karuan
memikirkan Radit disana, sebab aku baru ingat kalau mantan pacar desi
sebelumnya adalah anak geng motor sehingga bukan gadang gadang lagi kalau ia
pasti akan menyerang Radit secara tidak gentle alias keroyokan.
“kita pulang yuk!. Sepertinya
aku tidak enak badan” ajakku pulang. Aku tahu ia kecewa, namun bagaimanapun
juga aku harus mempertahankan naluriku untuk menjaga figi dari segala
marabahaya. Benar, arga mengangguk kecewa. “maaf ya?”
“ya.. nggak apa apa kok,
ketimbang kamu sakit. Aku nggak rela” ungkapnya. Akhirnya kami pulang. Aku
memintanya untuk mengantarkanku sampai di ujung jalan saja, setelahnya, aku
harus berjalan agak jauh, mengingat rumah Radit berada jauh masuk kedalam gang.
Aku berjalan gontai, ingatanku
terus diputar putar tentang Radit, aku mencemaskannya. Dizaman edan seperti
ini, bukan berita baru lagi kalau terjadi pembunuhan dengan alasan cinta
segitiga, dan korbannya pun tidak jarang meninggal sia sia. Dan tiba tiba,
telingaku menangkap sebuah suara minta tolong. Kuedarkan pandangn kaarah
sekitar. Tak ada satupun orang berda di dekatku. “tolong...” aku mencermati
suara itu, perlahan tapi pasti otakku mulai mengingatkan kau tentang suara itu
memberiku ingatan, dan yup... aku ingat, suara itu milik Radit. Aku mencari
asal suara itu. Aku mendapati seseorang tergeletak tak berdaya dengan sebuah
motor yang ikut tergeletek disampingnya, dialah Radit, aku membantunya berdiri.
“ayo pulang!” pintaku
merangkulnya, berniat membantunya naik ke motornya.
“tidak!. Aku tidak mungkin
pulang dengan keadaan begini” katanya lemas.
“lalu?”
“kau punya rumah kan?” aku
mengangguk.
“ayo kita kesana” pintanya, aku
menurutinya dan membocengkannya kerumahku dulu. Kami memasuki rumah itu. tampak
kotor. Aku mendudukkannya di sofa ruang tamu. Lalu mengambil kotak P3K untuk
mengobati lukanya yang menurutku cukup serius. Lama kami dipasung kebisuan,
yang ada hanya suara rintik gerimis yang pelan pelan mulai melebat berubah
menjadi hujan yang amat deras. Sesekali ia sedikit meringis menahan rasa sakit
di lukanya.
“sepertinya kau kedinginan”
ucapku lemah. Ia hanya menatapku, mencoba bicara dari hati ke hati. Aku
beranjak mengambilkannya sebuah jaket. Kusampirkan jaket itu pada kedua
bahunya. Ia hanya tersenyum simpul mengucap terima kasih dengan amat lembut,
dengan begini suaranya berubah jadi lengkingan. Aku sedikit tersenyum geli.
“siapa yang berbuat seperti ini
padamu?” aku mulai membuka obrolan, seperti biasanya, tak panjang panjang.
“mantan pacar desi.” Akunya
masih terdengar dengan nada perlahan.
“kau juga sih sudah tahu pacar
desi itu anak geng motor. Kalau sudah begini aku juga yang repot kan?” ocehku
tak kunjung berhenti, “lagipula...” ucapanku terpotong, kini ia menatapku
tajam, “kenapa menatapku begitu?” aku membelalakkan mata, “kenap....” lagi lagi
suaraku terpotong, namun kini bibirnya sudah mendarat saja dibibirku,
menghentikan ocehanku, membuatku diam, dan memandangnya dengan sayu.
Dan malam ini, adalah malam
paling bersejarah dalam hidupku, saat untuk pertama kalinya aku berciuman.
Diiringi oleh ritme air hujan yang cepatberadu dengan deru nafasnya yang
memburu, ini persis seperti darama korea, saat sepasang kekasih berlindung dari
hujaman air langit disebuah rumah kosong. Romantisme lebih terasa disini
daripada di cafe tempat aku dan arga kencan. Ia melepaskan bibirnya, membuatku
salah tigkah dan memilh untuk meninggalkan ia ke dapur dengan dalih ingin
mengembalikan kompres yang tadi kugunakan untuk mengompres bagian pipinya yang
babak belur dihajar anak anak geng motor.
Aku kembali membawa dua cangkir
teh hangat untuk kami berdua. Aku meletakkan dua cangkir itu diatas meja, tanpa
fikir panjang, ia segera menyambar teh itu. Aku hanya membisu, aku tak sempat
melayangkan kata apapun, lantaran aku masih salah tingkah dengan kejadian tadi.
Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan padanya, namun semua kata kata yang
sudah kupersiapkan seakan mandeg di tenggorokkan saja. Sudah hampir jam sebelas
malam,aku takut ibu akan mencari kami, karena yang ibu tahu adalah kami pergi
berdua. Jadi aku merasa tidak enak saja pada ibu kalau membawa pulang Radit
sampai jam segini, apalagi dengan keadaan Radit yang babak belur, itu akan
menambah rasa tidakenakanku pada ibu.
Terus saja kuamati jam dinding
yang terpajang didepan kami, sebab tak ada kegiatan lainyang bisa kulakukan
selain menunggu waktu berlalu. dengan tekad yang kuat aku memberanikan diri
untuk mulai bicara. “ayo kita pulang! Aku takut ibu akan mencari kita”.
“tidak bisakah kita menginap
disini untuk semalam saja?” tanyany enteng
“aku tidak enak pada ibu”
“ya sudah. Ayo kita pulang.”
Dan malam itu kami mengakhiri
kebersamaan kami. Kami pulang. Sesampainya di rumah, ibu langsung mencecar kami
dengan berbagai macam pertanyaan, tapi sebelumnya Radit menyuruhku untuk tetap
diam saat ibu memarahi kami. Beruntungnya emosi ibu bisa dikendalikan Radit,
aku sudah menduganya, dia memang cerdas.
AUTHOR P.O.V.
Sinar mentari pagi yang
menghidupkan sel vitamin D masih belum terasa panas, udara pun masih segar.
Belum banyak tercemar polusi seperti siang siang sebelum pagi ini. Ashila sudah
stay saja di sekolah pagi ini, alasannya cukup logis, rumah Radit cukup dekat
dengan sekolahnya, namun sama seperti seblumnya, ia masih saja enggan untuk
berangkat bersama Radit.
Masih cukup pagi bagi ashila
sampai di sekolah, meskipun sekolah sdah cukup ramai. Ia duduk di bangkunya.
Seperti biasa, sita yang duduk disebelahnya selalu berangkat telat. Maklum,
rumahnya jauh dari sekolah sehinnga ashila hanya duduk memandang papan tulis
yang belum ternoda tinta spidol. Arin duduk disampingnya, memperhatikannya yang
tengah terendap melompong.
“tumben pagi pagi udah
berangkat?”
“iya dong... hehehe” ashila
tertawa garing.
“eh kemarin aku ke rumahmu,
niatnya sih mau ngerjain pr, tapi rumahmu sepi”
Ashila bingung menjawabnya, tak
mungkin ia jawab terang terangan kalau sekarang ia tinggal di rumah Raditya.
Bisa bisa dirinya akan digosipkan yang tidak tidak oleh arin.
“hm” arin bergumam. “iya rin.
Kemarin aku emang nggak dirumah.”
“terus?”
“Ehmm... Pergi. Iya pergi.”
“Ohh...” Arin mengangguk
mengerti, Ashila bernafas lega. “Btw... ni! Kemarin aku disuruh Bu Mian buat
ngomong ke kamu kalo kamu terpilih jadi panitia buat acara pagelaran seni kelas
12.”
“oh ya?” Arin mengangguk mantap.
“siapa aja?”
“kamu, Irda sama.... siapa ya?”
arn mencoba mengingat ingat.
“ah ya.... Radit.”
Bersambung.... :D
jangan lupa tinggalkan komentar ya :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar