Senin, 01 Februari 2016

Di Batas Pintu Kelas

Dengan cekatan ia menulis catatan yang ada dipapan tulis, baru saja guru killer itu menuliskannya di papan, tapi ia kecepatan tngannya itu benar benar tak bisa dilampaui, apalagi kalau sudah di depan komputer, kecepatan tangannya itu benar benar benar seperti kilat. Sita namanya, gadis itu meskipun sudah ku ganggu bekali kali, tapi tetap saja ia mendapat nilai plus di mapel bahasa inggris karena kecepatan nulisnya itu. Ah, dia beruntung ketimbang aku yang samasekali tidak suka menulis. Bahkan aku selalu persetan dengan tugas sekolahku, tapi hebatnya... aku selalu saja mendapat juara, ya maksudku tiga besar. Dan yang paling aku benci di kelas ini adalah seseorang yang selalu saja menyaingi prestasiku, Radit, cowok sok keren, sok cool, sok pinter, emang sih dia pinter, oh dan dia songong dalam segala hal. Ya... walaupun harus kuakui kalau dia itu... ah aku malas menampakan satu ini, ganteng. Eit tapi tetap aja dia bukan idola sekolah.
                Di sekolah ini, ada satu cowok yang paling keren dunia akhirat.. lebay ya? Biar... namanya  arga, disamping keren, dia juga ganteng... uh my idol. Tapi sayangnya aku tak akan pernah mendapatkannya, lihat saja mantannya, sungguh bukan taruhanku, mereka jelas lebih cantik dariku, tapi setidaknya aku bisa menjadikan arga sebagai motivasi buat berangkat sekolah. Hahaha. Yup... aku memang tidak suka bersekolah, bagiku sekolah itu membosankan, bahkan aku bercita cita untuk tidak sekolah setelah lulus SMA nanti, tapi orang tuaku pasti akan berkata seperti ini “mau jadi apa kau? Mentah mentah sudah pintar tak mau sekolah...” ujar ayahku seperti orang marah karena diucapkan dengan logat medan yang kental.
                 Disamping itu, aku punya beberapa sahabat yang selalu ada buatku, mereka selalu menemaniku, bersamaku, sepanjang waktu. Yah... meskipun harus digaris bawahi kalau mereka itu..... ceplas ceplos. Dan ada di antara mereka itu harus siap batin dan gak boleh baper alias bawa perasaan. Lisa, ini dia sahabatku yang paling kwek kwek alias gopretwati, bisa dibilang dia itu adiknya SNSD alias SKSD, sok kenal sok dekat. Dini, pemarah dan cerewet, yah meskipun cerewatnya masih bisa ditoleransi. Fanda, gadis mungil yang mulutnya sepuluh. Husni, dengan suara yang khas. Wanda, dengan sejuta keanehannya. Itulah seklumit kisah tentangku, dan hidupku benar benar terasa menarik karena mereka.
——––
                Malas... itulah aku setiap harinya saat berangkat sekolah. Tak ada yang lebih baik dari main game, tapi apa daya, panggilan orang tua membuatku harus pura pura bersemangat untuk pergi ke sekolah. Hari ini, seperti hari hari sebelumnya, mentari seolah menyiramiku dengan sinarnya, menggugahku untuk segera sadar bahwa aku sudah sampai disekolah saat ini, tapi seperti biasanya juga, aku bagaikan daun yang tak pernah disiram berbulan bulan, layu tak bertenaga. Sekali lagi, seperti biasanya, aku berjalan enjoy, ya karena kufikir hari ini tidak ada pr atau pekerjaan rumit, namun ternyata, seluruh pelajaran hari itu.... ber-pr semuanya. Dan satu deritaku adalah, tidak istirahat hari ini.
                “gue kira anak yang paralel lima itu rajin dan pandai” sindir Radit yang tentu memukul telak aku, aku menghentikan penarian indah pulpenku diatas buku, tanganku mengepal, “apa maksudmu?” tanyaku dengan amarah yang sudah membuncah. Ia menatapku dari bawah ke atas, membuatku lebih intensif memngawasi matanya, “apa? Apa?” tanyaku sedikit mundur. Ia melangkah maju mengintimidasiku. Aku semakin mundur, hingga punggungku menghantam tembok. “apa apaan sih lo??” tanyaku dengan ekspresi takut, marah, bingung.aku menghadapkan kepalan tanganku ke wajahnya. Ia tersenyum remeh, lalu pergi begitu saja dengan tangan yang ia selipkan di kedua saku celana. “laki laki gila!” jeritku mengumpat padanya yang sudah hampir menjauh. “buat firan gue liar aja” umpatku setelah dia benar benar pergi.
                Menyebalkan, apa maksudnya memojokanku dikelas tadi, apalagi saat semua anak pergi ke kantin. Beruntung tidak ada yang tahu. Aku kembali mengutik angka angka magis yang sebentar lagi akan berlangsung, tapi aku belum mengerjakan satu soal pun, fikiranku masih terusik akan kejadian tadi. Aku kacau, akibatnya tak ada satu soal pun yang kukerjakan dan mapel matematika dengan guru killer akan segera di mulai, dan itu tandanya aku harus bersiap siap untuk ditendang dari kelas.
                “siang anak anak?” salam bu anggun dengan nada ramah yang tetap menggabarkan ke-killerannya, dengan kacamata yang hanya tersandar pada hidung dan rambut smoothing yang lurus.
                “ siang bu...” jawab anak anak serempak kecuali aku yang tengah sibuk memutar otak untuk membuat argumen yang nanti akan kulempar sebagai alasan tidak mengerjakan pr.
                “ baik, keluarkan pr kalian. Ada yang tidak mengerjakan?” tanya bu anggun dengan kemarahan yang belum terlalu jelas. “tunjuk tangan!” pintanya. Dengan wajah menunduk dan tangan dingin aku mengangkat tanganku tinggi tinggi. “kamu lagi... kamu lagi” ujarnya dengan nada bosan campur marah, “tidak ada alasan. Tutup pintu itu dari luar” ia menunjuk pintu kelas duabelas E.
                Aku melangkah gontai mondar mandir diluar kelas, sudah berkali kali aku menengok jam tangan yang terlingkar rapi di tangan kananku, serasa jarum jam tak pernah berputar. Lama sekali kutunggu waktu istirahat tiba,hingga kau akhirnya mencoba duduk sambari menunggu waktu istirahat.
                “eh ke kantin yuk!” ajak Radit ramah padaku. Aku diam menatap perubahan drastis yang terjadi padanya, aku memeriksa dahinya dengan punggung tanganku.
                “suhumu cocok. Lo habis makan apa?” tanyaku bingung, aku tak mengerti apa yang membuatnya berubah drastis sedemikian rupa. “nggak biasanya lo ngajak gue ke kantin?” aku  meliriknya tajam. Ia tetap membisu. “ayo...!” baru saja aku berjalan dua langkah, tiba tiba aku terjatuh kelantai. Radit tertawa, di ikuti anak anak di kelas. “jadi ini alasanmu mengajakku ke kantin?” tanyaku sinis. “dasar cowok gila? Apa nggak ada yang bisa lo kerjain selain ngeganggu gue” aku menunjuk nunjuk wajahnya sebgai luapan emosi kemarahanku padanya. Bagaimana tidak ia menumpahan air kelantai agar membuatku terpeleset. “dasar nggak ada gunanya! Arrrgggg... Radit.....” aku terbangun dan aku tersadar kalau sedari tadi aku tertidur di depan kelas. Dan kini, sudah masuk waktu istirahat, yang lebih parahnya lagi seluruh sekolah melihatku dengan tatapan aneh, barangkali mereka melihatku sedang marah, ah ini memalukan... aku tersenyum menampakkan gigi depanku , lalu  bergegas masuk kelas. Dan tak berapa lama kemudian ledakan tawa mereka bisa kudengar dari dalam kelas.
                “lo mimpiiin gue?” tanya Radit yang tiba tiba hadir di depanku. Melihat wajahnya yang tersenyum sinis itu membuatku benar benar marah, berusaha ku tahan emosi ini dengan mengigit bibir bawahku. “jujur aja! Kalo lo suka sama gue?” tanyanya lagi dengan kegeeran yang luar biasa geer.  Sejenak kulihat wajahnya, tawaku meledak... “Hahaha, najis tau?” ungkapku blak blakkan saja. Ia melirik memandangku, lama, sampai tawaku benar benar pulih. “kenapa?” tanyaku, namun ia masih saja memandangku. Entah, tiba tiba saja jantungku berdegup kencang, seolah akan lepas dari pangkalnya, nafasku mulai memburu. Radit mendekatkan wajahnya, lalu tepat di depan wajahku, ia sandarkan kepalanya pada tangan kanannya. Nafasku kian memburu tak beraturan, “yakin?” tanyanya seakan tahu apa yang sedang terjadi padaku. Aku hanya diam  lantaran merasa sudah kalah telak dengannya, dan beberapa saat kemudian, aku memutuskan untuk pergi dari hadapannya.
                Dengan masih dibayangi rasa takut aku keluar dari kelas, namun nahasnya, tepat di pintu kelas, aku bertabrakan dengan fanda, “ uh” refleks aku mengeluarkan suara. Tak ada angin tak ada badai, tiba tiba fanda tertawa, ya... meskipun aku tak bingung apa penyebab ia tertawa, tak lain, tak bukan dan persisnya adalah karena kejadian tadi kualami, bermimpi tentang lelaki songong itu.
                “kebetulan aja gue mimpiin dia” jawabku yang sedang diwawancara oleh sahabatku yang kepo itu.
                “jujur aja deh kalo lo tuh suka sama dia?” tanya Lisa yang langsung menyekak ster aku.
                “najis... nggak mungkinlah gue suka sama dia” jawabku lagi dengan nada merendahkan Radit.
                “ahh..  jangan jangan lo cinta sama dia?” dini menyenggol bahu kananku. “hhh kalian ada ada aja, udah... jangan bahas itu.. gue muak”.mereka tertawa membuatku lebih sengsara, ah... dasar Radit...
                Hari yang sial, semuanya kacau, dan ini gara gara Radit. Aku merebahkan tubuhku di atas  kasur, ah... serasa hilang semua bebanku, aku kembali semula, semangat tanpa menghiraukan apa yang tadi terjadi di sekolah, meski tak bisa kupungkiri aku masih terbayang dengan wajah menyebalkan Radit, namun aku mencoba menepis dia dari ingatanku. Sekali lagi, aku menengok jam dinding yang tegantung tepat di depan ranjang yang sedang kurebahi. 15.00. segera saja ku ambil langkah ke toilet untuk mandi, lalu bersiap untuk pergi kesekolah lantaran aku sudah berjanji untuk mengerjakan tugas kelompok di sekolah.
                Aku berjalan gontai melewati kelas demi kelas yang berjajar di sepanjang koridor sekolah yng tidak begitu ramai ini. Beberapa anak melihatku dengan tatapan geli, mungkin mereka masih teringat kejadian siang usai. Sebersit rasa malu kembali muncul saat semakin aku berjalan kedepan makin banyak pula orang yang tertawa ketika mereka menjumpaiku, dan di saat genting ini, otakku yng susah connect ini baru menyadarkan aku kalau arga pasti telah mendengar berita ini, ah aku jadi semakin malu. Aku mencepatkan jalanku sembari menunduk, dan sialnya, aku menabrak seseorang ketika aku melewati pertigaan koridor. Aku mencoba menengok sesorang yang kutabrak itu, oh God, Its Arga. Lekas saja aku masuk kedalam toilet yang kebetulan berada tepat di sampingku. Dan tak berapa lama kemudian suara tawa kecil seorang lelaki menghampiri telingaku. Dan bisa dipastikan itu adalah suara tawa Arga.
                Aku menatap wajahku sendiri dengan bantuan cermin toilet, agak lama aku melakukannya, fikirku masih dipenuhi dengan pertanyaan, ‘kenapa arga tertawa?’ mungkin terlihat tidak penting bukan? Tapi ini sangat penting. Karena aku tak ingin arga memandang buruk aku. Aku masih berfikir, memiringkan kepalaku kekanan, kekiri, sembari menatapku sendiri lewat kaca. Dan oh no, aku ingat. Pelan tapi pasti aku menengok salah satu pintu tolet yang berada di sampingku. Dan disana pula, aku melihat sebuah tanda yang meyakinkanku bahwa hanya laki laki yang boleh masuk ke toilet ini. “Hwaa...” aku berlari keluar dari toilet itu dengan jeritan yang lur biasa keras.
                Aku berhasil keluar dari sana, dan lagi lagi, aku kena. Karena, ternyata di depan toilet banyak anak anak yang sedang melakukan kesibukannya, namun tetap saja melihat seorang wanita keluar dari toilet laki laki adalah hal yang lucu dan menggelikan, dan tentu mengundang gelak tawa untuk menghadiri tenggorokan mereka. Aku kembali merasakan emosi berupa M.A.L.U, segera kukeluarkan sebuah buku dari tas untuk menutupi wajahku yang sebenarnya tak tahu harus kukemanakan. Aku berlari kecil dengan wajah tertutup buku, alhasil aku selamat dari pandang mata anak anak itu. Cara konyol yang berhasil emas.
                Dengan nafas yang masih terengah engah aku terkapar dikelas, meletakan kepalaku di atas meja, seolah olah aku keberatan untuk membawa beban berupa kepala. Aku menengok sekitar kelas, sepi, tak ada mahkluk bernama manusia kecuali aku.  Sudah kuduga sebelumnya kalau aku adalah orang pertama yang akan berangkat setiap kerja kelompok. Tak perlu kutunggu lama, tiba tiba seseorang datang dengan tawanya yang lepas kemana mana, Angki. Aku memandangnya sampai tawanya benar benar selesai.
                “lo tahu. Tadi ada kejadian lucu di toilet pria?” tanyanya seakan mengejekku. aku menyorotkan bola mata pada wajahnya yang nampak sangat sinis setelah tertawa lepas. “gue nggak tau sih siapa pelakunya. Kalo gue sih malu banget” ujarnya disusul dengan tawa yang mambahana, aku yakin, kalau ia tahu pelakunya adalah aku, pasti aku akan malu untuk yang kesekian kalinya, sehingga aku hanya diam.
                Padahal, ingin sekali aku melemparnya dengan sepatu atau alat alat lain yang lebih berat dari sepatu, berutung aku masih bisa mengendalikan emosi amarahku. Kalau tidak, sudah pecah kepalanya karena meja kayu jati  yang berbaris tidak rapi dikelas ini.  Di tengah amarahku yang kian membuncah, seseorang masuk ke kelas, seseorang dengan kedua tangan yang terselip di saku celananya. Ia-lah seseorang yang sangat kubenci dalam hidupku, Radit. Sontak saja aku terkejut dengan keadaannya, aku melirik Angki, memberi pandangan mengintimidasinya. entah bingung atau pura pura bingung , Angki membalas pandanganku dengan kebingungan yang nampak amat jelas.
                “dia bakal bantu kita ngerjain tugas” jelas Angki seolah tahu apa yang aku isyaratkan padanya.
                “lo gila?” mataku membulat. Angki menggeleng tanpa dosa. “ lo kan tahu kalau gue tuh...” Angki membekap mulutku, menahanku mengucapkan kata benci. “yuk kita kerjain” ajak Angki pada Radit, Radit hanya mengikuti pinta Angki. Namun ia sedikit memandangku aneh dan remeh, aku berusaha memberontak dari bekapan Angki pada mulutku, ingin rasanya aku menendang wajahnya yang sinis itu dengan kakiku yang sudah gatal ini. Tapi apa daya, tangan pemain voli ini lebih kuat dariku. Sehingga aku tak mampu melepaskan diri darinya.
                Sepanjang sore itu aku hanya duduk sembari memainkan ponselku, sesekali melihat pekerjaan yang mereka lakukan. Melihatku bertingkah demikian, Angki hanya diam, bahkan ia justru senang karena aku tidak banyak bicara sehingga tidak menyusahkan pekerjaan mereka, lebih lebih mengganggu pekerjaan Radit, atau bahkan membuat Radit tidak mau membantu kami, maksudku Angki.
                Waktu sudah menjukkan pukul  lima sore, cuaca yang tadinya panas berubah jadi mendung, mentari seolah enggan menampakkan sinarnya lagi. Ia seakan hilang diterkam suasana hatiku yang kacau. Perlahan tapi pasti, langit mulai menagis. Menghujamkan ratusan juta tetes air yang dibagi seluas bumi. aku terjebak di sekolah, Angki sudah pulang lima menit yang lalu. Maksud hati, aku hanya ingin menghindar dari kerumunan masal untuk menghindari rasa malu. Namun kalau tahu akan hujan deras begini, aku akan pulang bersama Angki lima menit yang lalu. Nasi sudah menjadi bubur. Faktanya, Angki sudah pulang lebih dulu, sedangkan aku harus menunggu hujan reda.
                Sudah hampir tiga puluh menit aku memandangi lapangan yang tengah disiram air langit, bukannya tanda tanda hujan akan berhenti, hujan kali ini justru semakin deras saja. Ketakutanku semakin memuncak, terlebih keramaian sudah mulai beranjak dari sekolah ini. Jalan fikirku sudah melayang terbang kemana mana. Takutku kian merajalela. Aku menggigit bibir bawahku untuk mengurangi rasa takutku. Meski hanya sedikit.
                Dari kejauhan aku melihat seseorang tengah berjalan menuju ke arahku. Dengan membawa sebuah payung ia terlihat susah untuk berjalan menembus kerunyaman hujan yang amat deras. Aku berjalan maju, memastikan bahwa setidaknya dia adalah seorang manusia. Yups.. ia berjalan menapak tanah. Ia berjalan mendekatiku, dan bisa kupastikan ia adalah Radit. Kini, ia berdiri di depanku, “lu ngapain sih? Yuk pulang!” suruhnya padaku dengan nada yang sedikit keras karena dibarengi dengan ritme hujan yang berantakan. Aku membisu, tak percaya dengan semua ini. “ke.. kenapa lo ada disini?” tanyaku terbata bata dan mata yang berkaca kaca. “udah, nggak usah banyak tanya, ayo pulang” ia menggenggam tanganku yang membuatku fokus pada genggaman tangannya yang kasar, namun bisa kurasakan kalau itu lembut dan tulus. Bagaikan patung yang seret, aku hanya mengikutinya saja, sebab pandangan mataku hanya terfokus pada genggamannya.
                Kami berjalan setengah berlari menembus gelap dan hujan, entah karena hujan atau bagaimana? Jalanan itu terlihat lenggang, hanya satu atau dua kendaraan yang berlalu lalang sehingga membuat kami lebih leluasa untuk berlari. Kami berhenti sejenak di sebuah halte, sekedar menghindar dari lelah, aku membenahi pakaianku yang sudah setengah basah karena air hujan. Radit melangkah kedepan, mengulurkan tangannya menadah hujan, lalu menerawang ke langit, mungkin sekedar meramal cuaca. Aku mengusapkan kedua telapak tanganku, berharap tidak lagi merasakan dingin yang amat sangat. “dingin ya?” tanya Radit mengagetkanku. Aku mengangguk, aku merasa anggapanku selama ini terhadapnya salah besar. “langsung pulang aja ya, wajah lo kelihatan lelah” ujarnya sembari menuntunku, dengan penuh perhatian. “aku bisa berjalan sendiri” tuturku sambil melepaskan tangannya yang tadi bergelayut di pundakku.
                Malam ini, tak ada satupun bus yang lewat sehingga kami harus berjalan untuk sampai ke rumah, dan kebetulan rumah kami searah sehingga kami bisa pulang bersama malam ini. “tidak mau masuk dulu?” tawarku sesaat setelah sampai di depan pintu gerbang rumah. “tidak” jawabnya singkat sebelum benar benar pergi menjauh.
                Aku membanting tubuhku idi sofa. Tulang tulangku serasa mau patah. Beruntung aku segera mengganti baju agar tidak demam. Meskipun begitu, tetap saja aku masih merasa kedinginan. “hhhh...” aku menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya lega. Kembali fikiranku di racun oleh sebuah perasaan yang membuatku tak bisa tidur, ah Radit lagi...Radit lagi. Aku samasekali tak menyangka kalau lelaki yang songongnya buakn main itu ternyata adalah seorang yang lembut. Oh god..., aku lupa mengucapkan terima kasih padanya, aku jadi merasa bersalah padanya.
                                                                                ——
                Aku menuruni anak tangga dengan cepat, memburu waktu untuk sarapan bersama kedua orang tuaku, momen yang paling kutunggu setiap hari, meskipun terkadang aku telihat munafik saat mengucap ‘selamat pagi’ dengan ramah. sebab kedua orang tuaku sangat jarang berada dirumah, sehingga aku lebih suka berada diluar rumah ketimbang harus sendirian dirumah karena aku anak tunggal.
                “pagi pah, mah” sapaku cuek, seperti hari hari sebelumnya.
                “pagi Shila sayang...” balas keduanya dengan semangat.aku duduk di salah satu kursi yang melingkari meja makan. Aku mulai mengambil sarapan berupa nasi goreng yang disajikan oleh si mbok. Namun mama dan papa hanya diam dan saling lirik. Membuat otakku mulai memunculkan beberapa pertanyaan. “kenapa?” tanyaku, mereka tetap diam dan menajamkan lirikan mata mereka.
                “ada hal yang mau papah samapaikan ke kamu” ungkap papa aneh.
                “apa?” aku mulai terlihat takut.
                “mama dan papa ada tugas selama sebulan di jerman. Jadi kamu akan kami titipkan di tempat teman papa.”
                “gak usahlah pah. Toh, aku kan sudah SMAkelas tiga, lagipula... disini juga ada si mbok.” Elakku.
                “sayangnya si mbok akan pulang kampung selama sebulan” sanggah mama dengan cepat seolah ingin menyekak aku. Dan dengan terpaksa aku menerima tawaran mereka untuk dititipkan ke rumah teman papa.
                ‘kringggg...’ aku telat lagi, sudah berapa kali ini aku telat berangkat sekolah gara gara debat dengan mama di meja makan, ada saja yang kami debatkan, namun aku senang, setidaknya aku komunikasi dengan mama, yah... meskipun lewat cara yang tiak wajar, debat. ‘krek’seorang memarkir sepedanya disebelahku, aku menengok. “Radit?” kagetku melihatnya. “tak biasanya kau berangkat sesiang ini?” tanyaku dengan penuh harap akan dijawab, sayangnya ia hanya tersenyum tipis.
                Aku bejalan mengikutinya, jalannya yang cepat dan tidak bisa aku tandingi membuatku harus sedikit berlari untuk bisa menyamainya. “emm.... ada yang ingin aku bicarakan padamu” ucapku dengan nada lirih dan ritme yang patah patah. “bicara saja” katanya tanpa menengok bahkan tetap berjalan cepat seperti sebelumnya. “emm.. berhenti dulu, aku ingin bicara padamu” pintaku, namun ia seakan tidak pernah menganggap aku ada dan terus berjalan cepat. “tinggal bicara apa susahnya sih” ujarnya lagi lagi tanpa menengok bahkan melirik sekalipun. Radit berbeda 180 derajat dengan kemarin, saat ia perhatian dan menjadi lelaki pengertian, bukan seperti Radit yang kutemui sekarang.
                “aku tidak jadi bicara” aku berlari mendahuluinya, sembari setengah menatapnya tajam dan marah, aku sampai dikelas lebih dulu dan langsung duduk dibangkuku sambil memandangi pintu kelas, menunggu Radit. Sementara itu, semua anak memandangiku dengan tatapan aneh dan bingung seakan ada yang salah dariku. “Kenapa?” tanyaku tanpa dosa, dan sedikit kebingungan, aku melihat ke arah Angki, ia meyadarkanku kearah guru, oh god. “sejak kapan bu anggun ada di situ?” tanyaku keras dan sekali lagi, tanpa ada rasa salah. “berdiri didepan” suruhnya, aku menuruti apa yang ia pintakan padaku, dengan langkah lunglai aku maju dan berdiri didepan, tak berapa lama kemudian, Radit datang dengan mulut yang setengah membulat, mungkin karena kaget. “kamu juga, berdiri di depan.” Suruh bu anggun pada Radit yang baru saja tiba. Aku sedikit tertawa kecil.
                “kau tahu? Aku telat gara gara kau.” Ucapku saat berada di taman sekolah.
“aku juga, telat gara gara kau” ujarnya dengan hendak menyamaiku. Serentak mata dan mulutku membulat. “ke.. kenapa kau menyalahkanku?” aku tergagap. Ia hanya membalasnya dengan bahasa kesukaannya, diam. Lagi lagi aku merasa bersalah,  apa mungkin karena kejadian kemarin ya?. Kulihat lagi wajahnya, ia nampak pucat. “kau demam ya...?” aku kembali membulatkan mulutku, entah kenapa aku sangat menghawatirkan kesehatannya? Barangkali karena kejadian kemarin aku jadi peduli padanya. “mau ku antar ke uks?” tawarku mengajaknya ke UKS.  Ia hanya menggeleng, “aku baik baik saja” bohonngnya padaku, terang saja aku tahu kalu ia sakit, namun ia sembunyikan rasa sakit itu dariku. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tak mau mengakuinya.
                “soal yang kemarin aku minta maaf ya?” ungkapku jujur sembari menggigit bibir bawahku.
                “minta maaf untuk apa?” ia balik bertanya padaku.
                “emm maksudku aku berterima kasih karena kau sudah mengantarkanku sampai rumah” ia hanya mengangguk tanda mengerti. Kami diam. Sejenak memberi nafas untuk kecanggungan kami saat bicara berdua saja, sementara yang lain sedang menempuh pelajaran, dan kami diusir dari kelas. Tiba tiba ia terbatuk. Aku menengok kearahnya yang sedari tadi membelakangiku.
                “kau yakin tidak mau ke UKS?” aku meliriknya dengan penuh simpati. Lagi lagi ia hanya terbisu disetai bahasa tubuh yang bisa kupastikan ia akan menjawab tidak jika seandainya kedua bibirnya itu mampu digerakkan.
                “kau brbeda dari yang kemarin” aku mendengus kesal, sikap dinginnya ini yang benar benar membuatku muak setengah mati, tapi apa boleh buat, temanku bicara saat ini hanyalah dia. Mau tak mau aku harus mengajaknya bicara agar aku tidak merasa suntuk. Ia tersenyum miring.
                “jadi tadi kau dikeluarkan bersama Radit?” tanya husni memastikan sambil menahan tawanya. Aku mengangguk lesu sembari menyedot es-ku. Mereka tertawa lepas, membbuatku semakin kesal saja.
                “apa mungkin kalian ini jodoh ya?” fanda melirikkan matanya keatas tanda ia sedang berfikir, namun cara dan ungkapannya itu benar benar meledekku.
                “jangan lupa undangannya ya, Shil” lagi lagi wanda mengejekku dengan tawanya yang membuat seisi kantin heboh.
                “bayangkan saja! Saat Ashila Putri dan Raditya Dwi Arafiq menikah, itu akan menjadi pernikahan terunik di dunia” ledek lisa, sekali lagi dibarengi dengan tawa yang membuncah.
                “terus Arga mau dikemanain Shil?” tanya dini dengan ejekan yang luar bisa mengejek, sebab sorot matanya itu mengarah kebelakangku, membuatku secara refleks menghadap kebelakang, dan yang mengejutkan adalah ada arga yang berada tepat di belakangku. Ia menengok, memandang kami dengan tatap penuh amarah. Aku hanya tersenyum menampakkan barisan gigiku.
                “pagi anak anak?”
                “pagi ma’am.........”
                “hari ini saya akan mengadakan ulangan harian” ucapan Ms. Risa sontak membuatku terkejut.
                “yah...” keluh semua anak terasuk aku, jelas saja mereka mengeluh, alasannya sudah gamblang bahwa mereka pasti tidak belajar tadi malam, tak terkecuali aku, maksudku aku belajar, bermain game baru. Bahkan tidak ada pemberitahuan sebelumnya yang sontak saja membuat anak anak tak siap menghadapi ulangan harian kali ini. Baca saja ada ulangan dadakan.
                Terang saja, aku merasa gentar, bagaimana mungkin aku akan mengerjakan ualangan bahasa inggris tanpa persiapan terlebih dahulu. Bahkan aku tak bisa mengartikan kata tanya seperti how dan why. Beruntungnya aku mempunyai teman yang super duper jago bahasa inggris dan kemampuannya dalam menerjemahkan bahasa inggris tak diragukan lagi, dan yang membuat aku bahagia adalah ia duduk disampingku yang menjadikan aku merasa memiliki kartu AS. Dialah Sita, gadis yang pandai dalam berbahasa inggris ini tentunya akan mau memberiku jawabannya.
                ‘tok to tok’ sesorang tiba tiba saja mengetuk pintu kelas dengan lirih, sontak semua anak mengalihkan perhatian kearah pintu kelas. Seorang pria dari kelas sbelah nampak tersenyum ramah. Ia masuk setelah mendapat izin dari Ms. Risa. Pria itu terlihat sedang bernegoisasi dengan Ms. Risa, entah apa yang mereka diskusikan, jelasnya mereka terlihat sangat serius. Bisa kupastikan kalau semua anak di kelas 9E sedang berdo’a agar ulangan ini ditunda, macam diriku yang kali ini sedang komat kamit mulutnya memanjatkan do’a agar ulangan hari ini tidak hanya ditunda, tapi ditiadakan, atau bahkan mapel bahasa inggris di hapuskan sepanjang mas kedepan. Tak berapa lama kemudian...
                “Sita? Kamu dapat panggilan untuk segera mendatangi ruangan kepsek” pinta Ms. Risa, Sita hanya bisa pasrah sambila berlalu keluar dari kelas. Deg... aku mulai ketar ketir mengingat tak ada lagi yang bisa kuandalkan selain Sita, dan ulangan pun dimulai. Jujur aku tak paham samasekali dengan soal soal yang serasa begitu asing bagiku. Aku sudah berpikir terlalu keras untuk itu, namun alhasil aku baru mampu mengerjakan 5 dari 30 soal, sementara waktu terus berjalan yang kini sudah separuh waktu berlalu.
                Aku semakin gusar, memendarkan pandang kesegala arah berharap ada anak yang dengan ikhlas membei contekkan padaku, tapi rasanya tidak mungkin aku menjumpai orang seperti itu melihat situasi dan keadaan saat dimana semua anak sedang dalam puncak srius menggarap ulangan. Sayangnya aku tak bisa mengandalkan kemampuan imajinasi logika yang biasanya selalu aku pergunakan untuk mengarang jawaban. Aku memutar otak, menjungkir balikan ide ide yang sudah ada, seakan mempertemukan kedua belah hemisferku ini dalam sebuah ruang kelam yang tak bisa kujangkau batasnya. Disaat genting akan habis waktu ulangan. Muncul sebuah ide cemerlang yang kurasa bisa membantuku melewati jalan yang sukar ini. Aku menghadap kebelakang, dimana Radit duduk.
                “udah selesai?” bisikku pada Radit yang lirih, berharap agar Ms. Risa tidak mendengarnya. Ia melirikkan mata ke arah meja, dimana lembar jawabnya berada. Kulihat ia sudah menyelesaikan semua soal soal itu, dan kurasa jawabannya benar. “kupinjam sebentar ya?”  tawarku dengan cekatan langsung mengambil lembar jawab itu dari tangannya tanpa izin terlebih dahulu. Cepat tapi pasti, dan tentunya, berantakan, itulah tulisanku. Bahkan beberapa orang menyebut tulisanku ini macam tulisan dokter, susah dibaca. Atau ada lagi yang dengan sinisnya mengucapkan bahwa tulisanku itu singkat, padat, tidak jelas. Aku ingat apa yang kata kata yang pernah diucapkan teman Sdku.
                “udah belum?” tanya seseorang yang aku yakini Radit, “bentar” balasku bisik.
                “cepetan dong!” suruhnya segera menyelesaikan catatanku, benar benar orang yang tidak sabaran. Sementara suara itu terus menerus mengetuku ngetuk telingaku, aku mersa seseorang mengoyah goyahkan kursiku.pasal ini membuatku begitu risih. Sehingga dengan agak kerasa aku menyentak Radit. “sabar dikit kenap....” aku tercekat begitu melihat Ms. Risa yang sudah berdiri mengamatiku. Sedikit kuarahkan pandang mata ke Radit, ia terlihat pasrah dengan apa yang sedang terjadi. Aku mengedarkan sorot mata pada seisi kelas, mereka nampak bengong dengan kejadian ini, saat aku tertangkap sedang manyalin jawaban Radit.
                Sontak aku tertawa melihat ekspresi mmereka yang pakem itu, bahkan tawaku meledak ledak. Sendiri, yup sendiri. Hanya aku yang terlihat tertawa. Aku mengalihkan pandang ke arah Radit, ia memelototkan mata, mungkin ia merasa aneh dengan tingkahku. Tawaku tak berahan lama. Aku berhnti menyadari mata Ms. Risa semakin bulat saja. Jujur saja aku masih ingin tertawa, tapi apa boleh buat, bukan sepertinya lagi kalau Ms. Risa tak mengizinkanku tawaku ini.
                “kamu... kamu” Ms. Risa menunjukku sebelum akhirnya ia menunjuk Radit. “keluar” telunjuk Ms. Risa mengarah ke pintu ruang kelas, seolah menunjukkan jalan yang sebennar benarnya intuk kami keluar dari kelas ini. “ayo lekas!” suruh Ms. Risa mengingat gerakan kami yang lamban saat mengemasi barang barang kami. Dengan langkah gontai kami pun keluar, namun ucapan Ms. Risa membuat kami berhenti  sejenak, “ nilai ulangan kalian kali ini kosong”.
                Kami seakan lunglai, namun kami tetap berjalan agar nyayian Ms. Risa itu tak lagi sampai di telinga kami, membuat kami muak dan gendang telinga kami pecah.
                Ia menendang kaleng bekas yang malang melintang di jalan, aku hanya melihatnya dari belakang. Seakan putus asa dan tak lagi punya tujuan, jalannya nampak sempoyongan. Ia berhenti, menghadap ke belakang, memandangku dengan tatapan sengit. “kau mengikutiku?”  ia mengintimidasiku. Aku salah tingkah, menggeleng palsu. “ti.. tidak, aku tidak mmengikutimu” aku tergagap menjawab pertanyaan darinya. Aku berbalik dan berlari kecil menjauhinya, berharap ia percaya dengan gelenganku tadi.
–––———
AUTHOR P.O.V.
 Radit menatap Ashila aneh, gadis itu seperti membuatnya seolah-olah menunjukkan sifat penyayangnya, entah apa yang membuat sifat itu kembali muncul saat ia berada di dekat gadis itu. Dan satu rasa yang tak pernah ia sendiri fahami. Yang tak pernah ia rasakan kecuali saat ia berada di dekat sesorang yang pernah membuatnya benar benar jatuh cinta. Dan membuat ia berubah total. Dari sekian banyak tempat dan fasilitas yang ada di sekolah ini, satu satunya tempat yang paling Radit suka adalah taman sekolah, dimana ia bisa memandang danau yang tidak seberapa luasnya.
Seperti saat ini, ia duduk dipinggir danau dan memandang danau yang jernih airnya, dan faktor inilah yang paling ia suka. Jarang jarang ada danau ditengah kota jakarta yang bersihnya seperti danau ini. Begitu fikirnya. Ditengoknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. 13.30. “sebentar lagi pulang” gumamnya. Tiba tiba sebuah tangan menghalangi pandangannya. Ia terkejut. “kya....” kaget seseorang yang sontak berada di depannya.  “kau?” Radit sedikit mengeraskan volume suaranya. Ashila tersenyum lebar.
                “hhhh” Radit menarik nafas panjang. Baru saja bebannya datang. “dua kali aku di usir karena kau” sesal Radit tanpa memandang Ashila, namun jelas apa yang diucapkannya itu ia tunjukkan pada Ashila. Ashila memonyongkan mulutnya. “kau ini kenapa sih? Setiap kali bertemu denganku, pasti maunya ribut.... mulu” ia menyentak Radit, seperti biasa, Radit hanya diam dan pergi. Beberapa langkah saja ia menjauh dari Ashila, ia baru mejawab pertanyaan Ashila tadi. “kau kan yang ngajak ribut” ia melenggang begitu saja, yang tentu membuat Ashila marah, wanita mana yang mau dikacangin macam itu.
                Ashila mengejar Radit, wajahnya itu sudah merah padam enggan menerima argumen dari Radit barusan. Menyadari ada seekor harimau yang tengah mengerjarnya, Radit langsung mengeluarkan jurus andalannya dalam olahraga, sprint. Terang saja, Ashila yang tidak bisa sprint itu tidak bisa menanding Radit. Meki sudah tergopoh gopoh, Radit tetap terlihat berjarak jauh dengannya, bahkan semakin jauh. Ia mencoba berlari lagi, namun ‘brakk’. Ia terjatuh, sialnya ia tidak pernah mengira kalau sebuah batu mangkal dibawahnya. Dengan sigap Radit berbalik, berniat menolong Ashila. Ia memapah Ashila ke ruang UKS. Baru saja mereka sampai ke ruang UKS, bel pulang berbunyi. Tapi Radit tetap memapah Ashila dengan tenang.
                Dengan tenang ia membalut luka Ashila,namun beberapa kali Ashila menjambak rambut Radit, mungkin karena sakit. Beberapa saat kemudian, luka Ashila yang tadi mengucurkan darah segar kini terbungkus perban putih, melingkari lututnya. Ia terbaring di ruang UKS, Radit msih setia menemaninya, meskipun padahal Radit masih punya banyak pr di rumah dan sebenarnya dia harus belajar untuk ujian tengah semester yang akan di adakan bulan b bb  bbb depan.
                “Dit..., makasih ya?” ucap Ashila lirih. Lagi lagi ia tak mendengar jawaban dari Radit, melainkan sebuah anggukan lemah ala Radit yang selalu ia dapatkan. ‘hoammm’  Ashila terlihat menguap, rasa kantuk yang amat tak tertahankan mnggerayangi tubuhnya. Tak butuh waktu lama, kantuk itu menguasai dirinya. Ia terlelap.  Radit yang duduk di sebelahnya tampak menimbang nimbang pendapat antara pergi atau tetap menemani Ashila yang terlelap.
                Sedikit ia memandangi  Ashila, namun semakin lama ia memandang wajah Ashila, semakin dalam pula sesuatu menusuk dalam hatinya. Entah apa itu? Ia mendekati Ashila. Dekat, semakin dekat, dari situlah ia baru menyadari betapa Ashila memancarkan wajah yang kalem. Ia menyandarkan kepala di samping Ashila tertidur. Tangannya mengenggam lembut tangan Ashila, lebih lembut dari genggaman yang ia berikan saat hujan kemarin. Dan merekapun sama sama tertidur.
                Hari kian senja saja. Sekolah yang baru saja riuh oleh anak anak yang berkepentingan untuk eskul mulai kembali diselimuti kesepian. Beruntung hari ini tidak ada eskul PMR sehingga Ashila dan Radit masih tertidur pulas, tanpa ada gangguan dari mereka yang ikut PMR yang biasanya menggunakan ruang UKS sebagai stand mereka. Ashila terbangun. Ia sedikit terkejut melihat lelaki yang sebenarnya ia benci itu ada di sampingnya, setia menemaninya yang sedari tadi menjelajahi benua mimpi. ia merasa tangannya di genggam seseorang dan ia adalah Radit. Ya benar, tangannya digenggam oleh Radit.
                Ia menggerakkan tangnnya, berniat untuk melepaskan tangannya dari genggaman Radit. Tapi, sekali lagi memandang wajah Radit, seolah ia enggan melepasnya dan tetap seperti itu. Ditatapnya wajah Radit, entah? Perlahan rasa benci yang digundukknya selama ini mulai memudar. Sebuah rasa yang tiba tiba saja muncul, yang tak pernah menahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Ia kembali ingat kejadian usai sore kemarin. Yang ia rasakan adalah ketika tangannya mulai menghangat, tak pernah ia rasa kehangatan ini. Menambah tusukkan rasa yang baru saja menancap pada hatinya kian dalam.
                Sebuah tetes air mengucur begitu saja dari matanya. Setets air mata haru mengingat tak pernah ia rasakan kehangatan yang setulus ini. Sekalipun dari kedua orang yang paling ia sayang, ayah dan ibunya. Ashila mulai sesengukkan oleh tangisnya sendiri. “eh....” Radit terbangun, ia masih kalap, namun  tetap sadar bahwa yang ada disapingnya adalah seorang gadis yang membuatnya selalu berdegup kencang  saat berada didekatnya.
                “udah bangun?” Ashila mengangguk lirih. “kenapa nangis?” Radit membulatkan mata.
                “tak apa” Ashila tersenyum kecil. “ayo kita pulang” ajak Ashila yang langsung disambut dengan uluran tangan Radit yang bermaksud membantu Ashila bangun. Ashila kembali tersenyum. “ayo!”.
                                                                                –––———
                Ashila sampai di rumah, ia sedikit tersentak saat kamarnya kosong melompong, bajunya, perlatan sekolahnya, gadget kesayangannya. Semuanya lenyap entah kemana, bahkan ps4 yang baru dibelinyapun ikut raib tak tahu kemana. Ia termangu di depan kaca yang tembus langsung ke halaman depan rumahnya, ia bernafas berat.sekali lagi ia menatap seisi kamar yang luas namun hanya tak terhiasi barang barang kesayangnnya, dan baginya itu sama saja bukan kamarnya.
                ‘beep beep....’ suara klakson mobil tiba tiba saja mengenai gendang telingnya, membuatnya sontak menengok ke arah halaman depan, di sana sebuah mobil berhenti dan seseorang melambai lambaikan tangannya ke arahnya. Segera Ashila turun menyambangi orang itu. “kamu yang benama Ashila?” tanya pria paruh baya itu dengan sopan seraya mencocokkan sesuatu di kertasnya. “ayo... saya antar kamu ke rumah teman papa kamu” ajak pria itu. Ashila yang tak tahu apa apa hanya mengikuti ajakan pria itu. Sepanajang perjalanan, hanya kebisuan yang mereka lempar. Tak ada satupun prcakapan hangat yang terjadi antara mereka. Mereka sama sama menatap jalan depan, dan sama sama berharap mereka akan cepat sampai tujuan
                Tak sampai satu jam perjalanan, mereka pun  sampai di sebuah rumah tertutup yang megah, namun kelihatan tidak ada penghuninya, Ashila mulai terlihat ketakutan. Sementara itu, pria paruh baya yang tadi mengantarnya tiba tiba hilang begitu saja disususl bunyi deru mobil yang perlahan mulai menjauh. Ashila memandang punggung mobil itu hingga mobil itu benar benar menghilang di tikungan yang jaraknya jauh sekali dari tempatnya berdiri. Ashila masih saja hanya menatap rumah megah itu tangpa mengetuk apalgi bersuara, dirinya masih was was dengan alamat yang diberikan pria paruh baya di dalam mobil. Sudah banyak kali Ashila menyocokkan alamat itu dengan nomor yang terpajang lusuh dan hendak rubuh di depan rumah itu. Takut takut kalau rumah itu bukanlah rumah teman papahnya, karena melihat tampilan yang membungkus rumah itu saja rasanya tak mungkin kalau papahnya punya sahabat yang tinggal di tempat terpencil ditengah sawah seperti rumah yang berada persis di depannya.
                Ashila membulatkan tekadnya untuk mengetuk pintu saja, itu terasa berat baginya, lebih dari menghadapi rintangan tersulit dalam game yang biasa ia mainkan. ‘hhhh’ ia menghembuskan nafas berat, ribuan beban perlhan mulai merasuki ulu hatinya. Dengan penuh percaya diri Ashila mengetuk pintu rumah itu. “permisi....?” sapa Ashila sedikit takut, tangannya pun bergetar hebat saat memegang pintu besi di rumah itu, ia menunggu untuk beberapa saat, sekejap kemudian ia kembali mengetuk pintu rumh itu lebih keras dari sebelumnya, dan memberi salam sapa lebih keras dari sebelumnya. “permisi....!” Ashila berusaha mengintip isi rumah itu, tapi nampaknya rumah itu benar benar tak berpenghuni. Dengan langkah lesu akhirnya Ashila beranjak dari rumah itu.
                Belum genapa langkah Ashila yang kesepuluh meninggalkan rumah yang catnya sudah kusam itu, tiba tiba Ashila merasa namanya dipanggil seseorang. Ia menoleh ke segala arah, dan menemukan seorang wanita paruh baya di depan pintu gerbang rumah tua tadi. Wanita itu tersenyum sambil melambaikan tangan, segera Ashila berlari mendekati wanita itu setelah memastikan kakinya menapak tanah. “kamu Ashila?” tanya ibu itu, Ashila mengangguk semangat. “ayo masuk!” ibu itu mempersilahkan Ashila masuk ke rumahnya, rumah yang cocok dengan alamat yang diberi sopir paruh baya di mobil tadi.
                Kini Ashila terbengong bengong, matanya awas mengintai setiap sisi taman di depan rumah yang kelihatan lusuh dan reot jika dilihat dari depan. Tak bisa di sangka jika di dalam rumah seperti itu bisa tersusun taman yang rapi dan indah macam yang sedang ada di depan Ashila ini. Dan tak yang paling tak terduga adalah bangunan dengan pagar yang hampir rubuh itu ternyata menyimpah rumah denga furniture yang begiu indah dengan kayu kayu yang terasa alami. Persis seperti rumah idaman Ashila. ‘sepertinya aku akan betah tinggal di rumah ini’ batin Ashila seraya mengamati dudut sudut rumah itu dengan teliti. “ini kamar kamu” ucap ibu itu dengan senyum penuh semangat menatap Ashila. “oh iya.. panggil saja aku ibu, anggap aku seperti ibumu... ya?” ibu menyenggol bahu Ashila, Ashila tersenyum lebar.
                “barang barang kamu sudah sampai lebih dulu. Kamu kemana saja? Katanya kau pulang sekolah jam dua siang? Lalu kenapa baru kesini jam 5 sore” ucap ibu sambil meletakkan teh hangat di meja kecil yang berada di pojok kamar baru Ashila. Ashila tersenyum. Ia agak salah tingkah, mengambil beberapa posisi duduk yang enak dirasanya. “kok dari tadi hany senyum senyum saja?”
                “iya... tadi ada tugas di sekolah, jadi harus pulang terlambat.” Jawab Ashila masih dengan wajah nyengir.
                “by the way, kamu sekolah di SMA Tunas Mulia kan?” lagi lagi Ashila tersenyum sambil mengangguk.
                “anak ibu juga sekolah disitu loh” ucap ibu sepertinya berharap Ashila tahu tentag anaknya.
                “oh ya?” Ashila nampak antusias ingin menyimak cerita yang akandisuguhkan ibu itu.
                “iya.., namanya...” ucapan ibu terpotong oleh panggilan seseorang dari lantai satu, sedangan kami di lantai dua. “sebentar ya? Anak ibu datang” sesegera mungkin ibu kelur dari kamar.
                Nampaknya Ashila sangat lelah, badannya terasa sudah lengket setelah seharian bergumul dengan tugas dan sinar mentari. Belum lagi tadi ia sempat tertidur di UKS karena kakinya terluka. Sampai sekarang pun pegal di lututnya masih terasa gamblang. Ia memijit mijit kakinya sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi.
                Malam ini, Ashila duduk di taman depan yang tadi dilihatnya seraya sibuk mengutak atik ponselnya, sudah beberapa kali ia menengok waktu saat ini di jerman, sesekali memandang langit malam yang di serakki oleh bintng bintang yang tersusun acak, namun tetap saja terlihat indah, mungkin karena dia bercahaya di langit malam yang biru kelam. Ashila termangu, fikirannya terbang melayang menyusul bintang bintang itu, seperti khayalannya yang selalu ia curahkan di PCnya saat waktu luang. Sekali lagi Ashila menengok jam tangan yang terlingkar di pergelangan tangan kanannya. Ia menepuk tangannya dan  “ahaa....” Tiba tiba saja terlintas di fikirannya untuk membuka akun facebook kesayangannya.
                Berandanya sudah penuh dengan status status alay yang terkadang membuatnya enek dan terpaksa harus meremove dia.  Lantaran mereka itu menyebalkan. Semakin kebawah, nampaknya status status di berandanya semakin tak terkontrol alaynya, ada juga status yang sifatnya menyindir sehingga tak jarang facebook yang seharusnya menjadi tempat sosialisasi yang modern dan baik malah menjadi ajang sindir menyindir. Sampai pada sebuah status ia berhenti menggeser jari dari layar ponselnya, dibacanya agak keras status tertanda oleh ‘Raditya Dwi Arafiq’ yang dikirim baru saja, “where are you?” ucapnya mengeja status itu. “untuk siapa ya?” tanyanya entah pada siapa.
                Malam mulai merayap ke pertengahan, namun ia masih saja terjaga, kata ibu, anaknya baru pulang dari kerja part timenya setelah tengah malam sehingga pintu gerbang belum dikunci dan lampu rumah pun belum dimatikan, begitu pula Ashila yang masih duduk di tempatnya sejak tadi. Sampai sekarang, Ashila masih saja terngiang status Radit, padahal sudah beberapa kali ia berusaha membuang ingatan itu dari memorinya.
                ‘krek krek’ suara pintu gerbang besi itu terbuka, Ashila menengok. Ia membelalakkan matanya. Refleks ia langsung masuk ke kamar, takut takut kalau tiba tiba ada pedofilia seperti yang ada di berita berita di televisi. Sesampainya di kamar nafasnya terengah engah, pegal di lututnya kembali kumat, namun sekeras mungkin ia berusaha menahan rasa sakit itu dan mencoba memulai mimpi indah.
                                                                                –––
                “pagi, Bu..! Pak!” sapa Ashila turun dari tangga, “lho, anak ibu kemana?”
                “baru saja berangkat, padahal tadi ibu menyuruhnya menunggumu, tapi ia malah lansung pergi, maafkan dia ya?” Ibu sedikit kecewa.
                “ tidak apa apa kok bu, lagi pula Ashila juga sudah biasa naik sepeda sendiri.”
                “lututmu terluka?” ibu kaget bukan main. Ashila hanya menyunngingkan senyum tipis. “seharusnya kau berangkat bersama Radit” lanjut ibu, kini Ashila yang kaget seengah mati. Telinganya pasti masih berfungsi dengan baik.
                “jjjjaadi... Radit itu anak ibu?” tanya Ashila terbata bata
                “kau mengenalnya?” kini ayah ikut bicara. Ashila mengangguk.
                “kau satu kelas dengannya?” ibu bertanya penuh harap. Ashila kembali mengangguk.
                “pasti kau lebih pintar dari Radit ya?” ucap ibu memuji Ashila. “tidak juga, Bu, yasudah Ashila berangkat dulu ya?” Ashila segera pamit pergi ke sekolah agar tidak terlambat mengingat waktu yang sudah hampir setengah tujuh.
–––———
Ashila P.O.V.
                Pagi ini, sekolah belum terlalu padat siswa, biasanya aku selalu berangkat lebih siang dari ini. Beruntung ia bisa cepat sampai di sekolah lantaran rumah Radit dibilan cukup dekat dengan sekolah. lapangan masih basah akibat hujan semalam, namun aku tetap saja ngeyel melewati lapangan itu. Aku sedikit berhati hati supaya tidak terpeleset. Di seberang lapangan sana, Dini, Lisa, dan Fanda nampaknya sedang asyikberbicang bincang alias nggosip, membuatku tergelitik untuk mendekati dan ikut ngerumpi bersama mereka.
                “hai? Pagi pagi udah ngrumpi aja?”  sapaku mebuat candaan garing untuk mereka. “bahas apaan sih?”
                “lagi bahas berita baru, lagi heboh tauuu”ucap dini dengan nada penuh misteri.
                “apaah sih? Bikin penasaran aja”
                “tapi kau janji ya? Gak akan cemburu” ucap fanda memastikan.
                “emang beritanya apaan?” tanyaku penasaran.
                “sepertinya kau tidak akan pernah bisa mendapatkan rivalmu deh?” goda fanda lagi.
                “Radit maksudmu?” fanda mengangguk. “kau bercanda ya? Aku kan sama sekali tidak menyukainya.”
                “kau yakin?” lisa sedikit memincingkan matanya, aku mengangguk pasti, meski terang saja aku masih sangsi dengan anggukanku.
                “kalau dia pacaran dengan desi bagaimana?” kali ini lisa yang menggodaku.
                “apa? Bukannya desi sudah punya pacar?” aku memastikan kembali ucapan lisa yang membuatku benar benar tercengang. Mereka hanya mengangkat bahu. Entah kenapa hal ini benar benar menusuk hatiku?. Aku tidak pernah mengerti apa yang tuhan rencanakan, sejak kejadian sore itu, mulai ada rasa yang menerjangku kuat kuat, aku sendiri tak tahu rasa apa itu, yang jelas, aku belum mampu menerjemahkannya. Dan yang aku yakin hanyalah, rasa itu tentang Radit.
                Lantaran barita tadi pagi, aku jadi tak fokus dengan pelajaran pagi ini. Padahal, setahuku ujian semester satu akan diadakan seminggu lagi.namun aku justru tak semangat untuk menjalaninya. Yang kutunggu saat ini hanyalah waktu dimana aku bisa tidur, lantaran tidur adalah hal yang paling indah dan mampu melegakan sedikit bebanku.perlahan rasa kantuk yang tak tertahankan pun mulai menyerangku. Aku menyandarkan kepala diatas meja, lamat lamat pandanganku mulai memburam dan gelap.
                “Ashila?” aku mendengar seklebat suara yang menghampiri telingaku samar. aku terbangun dari tidurku. Kini pak Anggara berada di depanku. “kerjakan soal di depan” suruhnya, dengan tubuh masih terikat kantuk, aku maju kedepan, berjalan sempoyongan, mengambil spidol dan mulai mengerjakan soal yang tertulis di papan, tanpa ada rintangan yang berarti. soal yang cukup mudah. Pak Anggara memandangku terkagum kagum. “yasudah, sana tidur lagi!” pintanya, aku kembali tergeletak di meja dan kembali terlepap, menjejeli alam mimpi. tak berapa lama kemudian, bel istirahat membahana diseluruh kelas membuat wajah mereka ingin segera keluar meninggalkan mapel IPA.
                Aku tetap berada di kelas, tak ingin memotong adegan mimpi dalam tidurku, meski kini hanya aku seorang yang berada di dalam kelas.namun ini justru membuatku nyaman. Sendiri tanpa teman untuk sesaat. Tak dinyana, tiba tiba anak anak kelas itu mengagetkan dan mengganggu tidurku, mereka membuat keributan dikelas. Dan yang paling kubenci dari keributan itu adalah mereka mengunjingkan desi dan Radit dan memuji bahwa mereka itu pasangan yang cocok, ah aku muak. Tidurku jadi tak senyaman sebelumnya. Membuatku memilih kebijakan terbaik berupa meninggalkan kerumunan itu. “cocok dari mana? Mereka itu pasangan terburuk yang pernah ada” gumamku mengumpat. Kutinggalkan kelas dengan masih keadaan dongkol menuju ke kantin, memesan semangkuk mie dan segelas es teh, untuk mengganti sarapanku yang hilang tadi pagi.
                “boleh duduk disini? Meja lainnya sudah penuh”tanya seorang lelaki, meskipun tanpa aku melihatnya, aku yakin sangat kalau dia laki laki. Suaranya berat. Aku menengok. Oh god... benarkah pria didepanku ini arga? Aku menampar pipiku sementara ia masih setia menunggu jawabanku, aku mengangguk tak percaya. Aku sempat menatapnya, sebelum akhirnyaibu kantin mengagetkanku . “selamat menikmati!” ujar ibu kantin dengan ramah sambil menyodorkan semangkuk mi dan segelas esteh yang kupesan tadi, aku tersenyum menanggapi senyuman ibu kantin.
                “eee...” aku sedikit canggung untuk memulai obrolan dengan arga, maklum saja, sebelumnya aku tidak pernah berada satu meja dengan pria asing macam arga seperti yang kini kujalani. Namun, seakan mengerti kecanggunganku, arga memulai obrolan ngalor ngodul kami.
                “kemana teman temanmu?” arga memulai percakapan.
                “mereka sedang ada kelas, kami kan beda kelas. Jadi tidak bisa bersama setiap waktu” jawabku masih nampak canggung dan risih. Arga mengangguk mengerti, lalu tersenyum simpul.
                “nanti malam ada acara?” tanyanya to the point. Aku yang tengah sibuk dengan mi yang berada dimulutpun kini menatapnya dengan menggeleng kecil. “mau jalan denganku?” aku membelalakan mata, tak percaya bahwa arga senekat itu mengajakku jalan. “oh iya. Ini nomor telefonku. Kirim alamatmu ya! Nanti malam akan kujemput” ia memberikan secarik kertas berisi nomor nomor berurutan panjang. “maaf ya? Tidak bisa menemanimu makan. Sebentar lagi aku ada kelas” pamitnya, sekejap kemudian ia berlalu dari pandanganku.
                Baru saja senja hilang tertelan jingga yang berlalu dari pandang bulan, mentari pun seakan ikut larut bersama senja, kini hanya ada bintang yang kian setia saja pada bulan. Ya, malam telah tiba, membuatku semakin deg deg ser lantaran akan dijemput arga. “aduh... mana ya yang cocok?” tanyaku monolog. “masa sih harus pakai kaos oblong sama jeans” aku protes pada diriku. Sambil memandang kaca aku merapikan kaos oblong dan jeans yang kupakai, meski sempat berdebat dengan diriku, tapi akhirnya kuputuskan untuk memakai kaos oblong dan jeans, aku memilih untuk tampil apa adanya. Drrrtt drrrtt. Ponselku berdering. Aku membuka sebuah pesan masuk dari arga. “duapuluh menit lagi aku sampai” tulisnya.
                ‘hhhh’ kutarik nafas panjang seraya membuka pintu kamarku. Aku berdiri membelakangi pintu kamar. Tunggu... aku menemukan seseorang disebelahku. Aku menengok berbarengan dengannya. “Radit?” aku kaget setengah mati. “jadi kamarmu disini?” tanyaku panik. Ia hanya mengangguk biasa saja.
                “jadi kau anak teman ayah yang akan tinggal selama sebulan disini?” ia balik bertanya.
                “iya... kenapa?” aku sewot.
                “nothings” jawabnya songong memakai bahasa inggris. Ia melihatku dari bawah ke atas. “malam Minggu mau kemana? Kau kan jomblo” lanjutnya dengan sinis.
                “hey! Jaga mulutmu ya!” emosiku mulai membuncah. Namun seakan tak menepis rasa  yang tempo hari ada. Ia hanya berlalu sambari menyelipkan tangan pada kedua sakunya. “tunggu!” aku menghentikan langkahnya. Ia berhenti membelakangiku. “kau jadian dengan desi?” aku agak melirihkan suaraku. Lagi lagi ia mengangguk sebelumbenar benar pergi. Aku hanya menatap punggungnya, karena hanya bagian itu yang bisa kutatap semauku, kapanpun. Aku menyusulnya turun kebawah. Akmi berpamitan dengan ibu dan ayah yang tengah menonton tv bersama.
                “kalian akan pergi bersama?” ibu tersenyum harap dengan ekspresi ceria. Belum sempat aku menjawab. Ibu sudah berkoar koar pada ayah, “lihatlah yah! Nampaknya ashila ini akan menjadi menantu kita...” aku tercengang dengan ucapan ibu, “ti..,” aku berusaha menyanggahnya, namun Radit menahanku melakukannya, nampaknya ia haya tidak ingin ibu kecewa. “iya, Bu. Kami akan pergi bersama” Radit tiba tiba saja merangkul lenganku. “ya sudah, kami pergi dulu ya, Bu”. “be carefull” ujar ibu setelah kami keluar dari pintu.
                aku melepaskan rangkulannya. Dan bergidik ngeri. “kenapa sih?” aku masih sewot. Ia tak menjawab, dan langsung pergi begitu saja dengan motornya tanpa memperdulikan aku. Aku diam, menunggu arga datang menjemputku. Meskipun begitu, fikiranku masih terngiang ngiang pasal ucapan Radit yang membenarkan kalau ia benar benar pacaran dengan desi. Entah kenapa ada perasaan yang mengikatku, dan seolah memberiku pengertian bahwa ‘Radit adalah milikku’. Hati kecilku, ialah yang tak mengizinkanku untuk lari dari kenyataan. Dari kejauhan, sebuah lampu motor menyoroti keberadaanku, aku memincingkan mata yang silau ke arahnya. Sebuah motor matic merah kini berhenti didepanku. Pengendaranya membuka helm, dan pengendara itu beridentitas arga. Yup.. dia adalah arga, yang kini mangkal di depanku, menungguku membonceng motor yang ia bawa dan lalu pergi.
                Kami sampai disebuah cafe betema romantis, dimana meja meja khusus didesain untuk dua orang yang kan duduk saling mengadap satu sama lain. Lilin putih yang menyala agak terang diletakkan di tengah mejanya, menambah suasana romantis di cafe itu. Arga mengajakku duduk disalah satu bangku yang masih kosong. Kami hanya memesan dua gelas minuman. Dudukku masih canggung. meski tadi kami sudah sempat berbincang bincang lewat ponsel, namun tetap saja aku masih merasa canggung saat berhadapan langsung dengannya. Ironisnya, meskipun tadinya aku mengidolakan arga, aku tidak merasa ada sebuah rasa yang menyentuh hatiku seperti ketika aku bersama Radit. Ada sesuatu yang hilang dariku.
                “kamu kenapa? Dari tadi diam saja?” nada yang arga lempar mencerminkan kekhawatiran. Aku tersenyum lembut mentapnya sekilas, lalu kembali menunduk.
                “kamu sakit?” ia kembali bertanya, deangan penuh perhatian ia mengecek dahiku dengan punggung tangannya, aku hanya melihatnya, tanpa ada yang bergetar dalam hatiku. Sedikitpun.
                “aku tidak apa apa” aku melepaskan tangannya dari dahiku sembari tersenyum simpul. Hatiku tidak karuan memikirkan Radit disana, sebab aku baru ingat kalau mantan pacar desi sebelumnya adalah anak geng motor sehingga bukan gadang gadang lagi kalau ia pasti akan menyerang Radit secara tidak gentle alias keroyokan.
                “kita pulang yuk!. Sepertinya aku tidak enak badan” ajakku pulang. Aku tahu ia kecewa, namun bagaimanapun juga aku harus mempertahankan naluriku untuk menjaga figi dari segala marabahaya. Benar, arga mengangguk kecewa. “maaf ya?”
                “ya.. nggak apa apa kok, ketimbang kamu sakit. Aku nggak rela” ungkapnya. Akhirnya kami pulang. Aku memintanya untuk mengantarkanku sampai di ujung jalan saja, setelahnya, aku harus berjalan agak jauh, mengingat rumah Radit berada jauh masuk kedalam gang.
                Aku berjalan gontai, ingatanku terus diputar putar tentang Radit, aku mencemaskannya. Dizaman edan seperti ini, bukan berita baru lagi kalau terjadi pembunuhan dengan alasan cinta segitiga, dan korbannya pun tidak jarang meninggal sia sia. Dan tiba tiba, telingaku menangkap sebuah suara minta tolong. Kuedarkan pandangn kaarah sekitar. Tak ada satupun orang berda di dekatku. “tolong...” aku mencermati suara itu, perlahan tapi pasti otakku mulai mengingatkan kau tentang suara itu memberiku ingatan, dan yup... aku ingat, suara itu milik Radit. Aku mencari asal suara itu. Aku mendapati seseorang tergeletak tak berdaya dengan sebuah motor yang ikut tergeletek disampingnya, dialah Radit, aku membantunya berdiri.
                “ayo pulang!” pintaku merangkulnya, berniat membantunya naik ke motornya.
                “tidak!. Aku tidak mungkin pulang dengan keadaan begini” katanya lemas.
                “lalu?”
                “kau punya rumah kan?” aku mengangguk.
                “ayo kita kesana” pintanya, aku menurutinya dan membocengkannya kerumahku dulu. Kami memasuki rumah itu. tampak kotor. Aku mendudukkannya di sofa ruang tamu. Lalu mengambil kotak P3K untuk mengobati lukanya yang menurutku cukup serius. Lama kami dipasung kebisuan, yang ada hanya suara rintik gerimis yang pelan pelan mulai melebat berubah menjadi hujan yang amat deras. Sesekali ia sedikit meringis menahan rasa sakit di lukanya.
                “sepertinya kau kedinginan” ucapku lemah. Ia hanya menatapku, mencoba bicara dari hati ke hati. Aku beranjak mengambilkannya sebuah jaket. Kusampirkan jaket itu pada kedua bahunya. Ia hanya tersenyum simpul mengucap terima kasih dengan amat lembut, dengan begini suaranya berubah jadi lengkingan. Aku sedikit tersenyum geli.
                “siapa yang berbuat seperti ini padamu?” aku mulai membuka obrolan, seperti biasanya, tak panjang panjang.
                “mantan pacar desi.” Akunya masih terdengar dengan nada perlahan.
                “kau juga sih sudah tahu pacar desi itu anak geng motor. Kalau sudah begini aku juga yang repot kan?” ocehku tak kunjung berhenti, “lagipula...” ucapanku terpotong, kini ia menatapku tajam, “kenapa menatapku begitu?” aku membelalakkan mata, “kenap....” lagi lagi suaraku terpotong, namun kini bibirnya sudah mendarat saja dibibirku, menghentikan ocehanku, membuatku diam, dan memandangnya dengan sayu.
                Dan malam ini, adalah malam paling bersejarah dalam hidupku, saat untuk pertama kalinya aku berciuman. Diiringi oleh ritme air hujan yang cepatberadu dengan deru nafasnya yang memburu, ini persis seperti darama korea, saat sepasang kekasih berlindung dari hujaman air langit disebuah rumah kosong. Romantisme lebih terasa disini daripada di cafe tempat aku dan arga kencan. Ia melepaskan bibirnya, membuatku salah tigkah dan memilh untuk meninggalkan ia ke dapur dengan dalih ingin mengembalikan kompres yang tadi kugunakan untuk mengompres bagian pipinya yang babak belur dihajar anak anak geng motor.
                Aku kembali membawa dua cangkir teh hangat untuk kami berdua. Aku meletakkan dua cangkir itu diatas meja, tanpa fikir panjang, ia segera menyambar teh itu. Aku hanya membisu, aku tak sempat melayangkan kata apapun, lantaran aku masih salah tingkah dengan kejadian tadi. Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan padanya, namun semua kata kata yang sudah kupersiapkan seakan mandeg di tenggorokkan saja. Sudah hampir jam sebelas malam,aku takut ibu akan mencari kami, karena yang ibu tahu adalah kami pergi berdua. Jadi aku merasa tidak enak saja pada ibu kalau membawa pulang Radit sampai jam segini, apalagi dengan keadaan Radit yang babak belur, itu akan menambah rasa tidakenakanku pada ibu.
                Terus saja kuamati jam dinding yang terpajang didepan kami, sebab tak ada kegiatan lainyang bisa kulakukan selain menunggu waktu berlalu. dengan tekad yang kuat aku memberanikan diri untuk mulai bicara. “ayo kita pulang! Aku takut ibu akan mencari kita”.
                “tidak bisakah kita menginap disini untuk semalam saja?” tanyany enteng
                “aku tidak enak pada ibu”
                “ya sudah. Ayo kita pulang.”
                Dan malam itu kami mengakhiri kebersamaan kami. Kami pulang. Sesampainya di rumah, ibu langsung mencecar kami dengan berbagai macam pertanyaan, tapi sebelumnya Radit menyuruhku untuk tetap diam saat ibu memarahi kami. Beruntungnya emosi ibu bisa dikendalikan Radit, aku sudah menduganya, dia memang cerdas.
–––———
AUTHOR  P.O.V.
                Sinar mentari pagi yang menghidupkan sel vitamin D masih belum terasa panas, udara pun masih segar. Belum banyak tercemar polusi seperti siang siang sebelum pagi ini. Ashila sudah stay saja di sekolah pagi ini, alasannya cukup logis, rumah Radit cukup dekat dengan sekolahnya, namun sama seperti seblumnya, ia masih saja enggan untuk berangkat bersama Radit.
                Masih cukup pagi bagi ashila sampai di sekolah, meskipun sekolah sdah cukup ramai. Ia duduk di bangkunya. Seperti biasa, sita yang duduk disebelahnya selalu berangkat telat. Maklum, rumahnya jauh dari sekolah sehinnga ashila hanya duduk memandang papan tulis yang belum ternoda tinta spidol. Arin duduk disampingnya, memperhatikannya yang tengah terendap melompong.
                “tumben pagi pagi udah berangkat?”
                “iya dong... hehehe” ashila tertawa garing.
                “eh kemarin aku ke rumahmu, niatnya sih mau ngerjain pr, tapi rumahmu sepi”
                Ashila bingung menjawabnya, tak mungkin ia jawab terang terangan kalau sekarang ia tinggal di rumah Raditya. Bisa bisa dirinya akan digosipkan yang tidak tidak oleh arin.
                “hm” arin bergumam. “iya rin. Kemarin aku emang nggak dirumah.”
                “terus?”
                “Ehmm... Pergi. Iya pergi.”
                “Ohh...” Arin mengangguk mengerti, Ashila bernafas lega. “Btw... ni! Kemarin aku disuruh Bu Mian buat ngomong ke kamu kalo kamu terpilih jadi panitia buat acara pagelaran seni kelas 12.”
                “oh ya?” Arin mengangguk mantap. “siapa aja?”
                “kamu, Irda sama.... siapa ya?” arn mencoba mengingat ingat.
                “ah ya.... Radit.”
Bersambung....  :D
jangan lupa tinggalkan komentar ya  :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar